Sebuah Cerpen

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan-tulisan Januar Eriyanto yang kubaca setiap ada notifikasi di email. Seperti katanya, enjoy!

Hujan di Malam Rabu

“Zraaasssss…. Tak-tak. Tring-ting-ting…,” bunyi hujan di malam Rabu mulai terdengar tatkala memasuki waktu Isya. Hujan di malam hari seharusnya membawa ketenangan dan kedamaian malah berbalik menjadi duka kerinduan. Hujan di malam hari yang kusenangi kini berubah menjadi lara, lara-lara kerinduan yang tidak dapat tersampaikan pada tambatan hati. Hujan itu … kamu.

Dua tahun yang lalu, aku bersama denganmu di gedung perpustakaan kampus XXX lantai empat. Aku yang penat dengan perkuliahan sejak pukul sembilan pagi hingga empat sore menyusulmu menuju perpustakaan. Kamu yang ada disana sejak siang hari untuk menyelesaikan tugas kuliah.

“Bisa menjemputku?” Aku mengiriminya pesan supaya ia menjemputku ke gedung kuliah untuk menemaninya disana. Aku berpikir sejenak, akan sangat melelahkan jika ia naik dan turun lantai empat cuma untuk menjemputku, padahal jarak perpustakaan dengan gedung kuliahku ini dekat. Ah … aku sedikit egois jika memaksakan egoku untuk dijemput olehnya, sedangkan aku bisa menyusulnya dengan berjalan.

“Iya.” Dia menjawan pesan itu. Namun, aku sebaliknya menolak kesanggupannya untuk datang.
“Tidak jadi, aku kesana dengan berjalan saja karena dekat. Tidak apa-apa.”
“Iya. Lewat jalan pintas depan penerbitan buku kampus karena jaraknya lebih dekat,” balasnya dan aku mengiyakan.

Aku yang lelah dan penat saat itu berjalan menikmati langkah kakiku yang lelah, otak yang lelah dan pantat yang panas karena kelamaan duduk menerima materi kuliah sepanjang hari. Beberapa menit kemudian aku telah sampai di lantai empat, ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu alam yang sesuai dengan prodinya.

“Hai ….” Aku menyapanya. “Hah….” lalu menghela nafas dan duduk di dekatnya. Ia yang terlihat pusing, mumet dan penat sama sepertiku. “Adek lapar….” Aku yang baru saja duduk merebahkan setengah badan ke meja menghadapnya, melihatnya dari samping. Ia yang sedang sibuk dengan laptopnya sejenak melihatku dan tersenyum sambil memainkan satu alisnya. Biasa…gaya mengangkat satu alis. Aku pun membalasnya dengan senyuman, “semangat….” Ucapku untuk menyemangatinya. Padahal kami berdua sama-sama membutuhkan semangat saat itu. “Nanti mau makan dimana?” Tanyaku. Aku mengajaknya bicara walaupun dia sedang sibuk mengetik tugasnya di laptop.

“Terserah. Kalau aku yang penting makan,” jawabnya. Ya…laki-laki kebanyakan memang seperti itu, tidak pilih-pilih makanan layaknya perempuan sepertiku. Dia tidak terlalu mengutamakan rasa yang penting makan untuk menjaga tubuh tetap sehat.
“Makan dimana ya? SBS?”
“Hmph.” Dia menahan tawa dan melihatku mendengar pertanyaan itu.
“Apa?”
“Salah. Yang benar itu SBC.” Ia memperbaiki singkatan itu.
“Iya, SBS.” Aku benar-benar tidak fokus saat itu karena 6L; Lelah, Letih, Lapar, Lemas, Lesu, Lunglai. Aku mengulang-ulangi singkatan tempat makan yang terdiri tiga huruf itu, “SBS” yang selalu salah.
Ia yang lelah mendengarku lalu mengatakan, “SBC, kamu lelah. Sudahlah… istirahat.”
“Aku ngantuk….”
“Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau tugas ini sudah selesai,” tuturnya dan aku mengiyakan.
Badanku menyamping menghadapnya dan…, “zraaassshhhh.” Hujan pertama yang turun di sini sebagai pembuka masuknya musim hujan saat itu.
“Hujan?” Aku pun bangkit dari rebahan. “Bagaimana nanti kita bisa pulang?”
“Tunggu setelah hujannya reda.”
“Hujan pertama di kota rantauan turun saat sedang bersamamu.”
Dia tersenyum dan bertanya, “Terus kenapa?”
“So sweet, romantis,” jawabku sambil tersenyum melihatnya. “Yah…sudah hujan, air di kosku tidak ada, belum mandi lagi. Adek nanti ke kosnya Dina gih buat numpang mandi?” Aku sebenarnya meminta persetujuannya supaya bisa ke kos teman karena jaraknya yang lumayan jauh dan waktu itu juga menjelang malam yang disertai hujan.
“Tidak,” katanya. Dia menolak keinginanku yang harus ke kos teman malam-malam cuma untuk menumpang mandi.
“Tapi aku belum mandi,” rengekku supaya ia mengiyakan.
“Mandi pakai air hujan,” ucapnya santai.
“Eh…kok gitu? Aku kan perempuan. Tidak seperti laki-laki yang simple mau mandi hujan atau apa kek yang lebih mudah.”
“Ya…, ditampung.”
“Lebih baik aku tidak mandi.”
“Ya…sudah jangan mandi.”
“Apa sih? Kok gitu?” Aku sedikit kesal, namun jawabannya memang benar dan sedikit menyebalkan.
“Kenapa harus repot-repot sih? Harus mandi ke kos teman. Apa kamu tidak bisa memanfaatkan apa yang ada. Air di masjid dekat kosku lancar.” Menurutku, di balik jawabannya, ia sebetulnya memberikan saran.
“Apa tidak apa-apa mandi disana?”
“Tidak apa-apa.”
Aku pun mengikuti sarannya yang menyebalkan itu untuk menghindari munculnya cek-cok yang bisa ditimbulkan akibat perbedaan keinginan. Akhirnya, aku pun memutuskan mandi di kamar mandi masjid dekat kosnya itu.

Kini, hujan di malam Rabu tidak kunjung mereda dan aku pun belum merasakan kantuk sama sekali. Pikiranku terjaga karena mengingatnya, mengingat ia di saat hujan karena hujan pertama turun saat aku bersama dengannya. Hujan di malam ini begitu jahat, turun dengan lebatnya menghadirkan kumpulan kerinduan padanya. Ia yang tidak lagi disini menemaniku di saat musim hujan seperti tahun-tahun lalu, ia yang selalu ada bersamaku. Ia yang selalu kukirimi pesan-pesan kerinduan di kala hujan datang. Hujan malam Rabu sangat menyiksaku, pesan-pesan kerinduan yang biasanya kukirimkan untuknya kini terhenti, aku tidak lagi memiliki hak untuk mengiriminya pesan-pesan itu, walaupun tersiksa sendiri merindukannya sampai terjaga sepanjang malam.

Smarthphone yang pintar ini seolah mati fungsi semenjak ia pergi. Kerlap-kerlip lampu yang menandakan adanya pesan-pesan darinya kini sepi sunyi, tidak ada lagi bunyi pesan khusus yang datang darinya. Hujan malam rabu memang penjahat yang menghadirkan ia bersama kenangan dan kerinduan. Aku menghela nafas panjang dan menahannya, lalu menyebut namanya dan berucap, “aku… kangen….” Namun, kangen yang tidak tersampaikan. Sudah tengah malam dan waktu menunjukkan pukul satu dini hari.

Hujan yang seharusnya menjadikan tidur nikmat berubah menjadi penyiksa yang jahat. Aku ingin mengiriminya pesan dan bercerita padanya, seperti biasa yang kulakukan selama ia masih bersamaku, “disini hujan…dan aku merindukanmu.” Namun, smartphone yang mati fungsi ini hanya bisa kugenggam tanpa berani mengetik kata-kata dan hanya menghidupkan data, mengawasi kontaknya apakah sedang online atau tidak. Kerinduan yang dibawa oleh hujan di malam Rabu menemaniku melepas kangen dengan membaca pesan-pesan yang telah lalu. Terasa… sesak sekali dada ini bersamaan dengan rindu pada dini hari.

“Tidak… aku tidak boleh seperti ini,” gumamku. Aku berusaha menenangkan pikiran dan menikmati rindu itu sendiri bersama hujan. Tidak, jiwa ini ternyata belumlah lelah, mata ini belumlah terkantuk. Bagaimana aku harus menyampaikan kerinduan ini? Rindu di tengah malam karena tradisi memikirkanmu sebelum tidur belumlah usai, ditambah lagi dengan kehadiran hujan yang merepresentasikan kamu. Hujan itu kamu, dan kamu itu adalah hujan. Aku mencoba menenangkan pikiran…, menarik nafas dalam dan mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Katanya, doa ketika hujan merupakan doa maqbul yang segera dikabulkan. Doaku malam itu…hanya Tuhan yang tahu.

“Tingdong deng dong deng!” suara alarm berulang berbunyi pada pukul enam pagi membangunkanku. Hujan semalam ternyata belum juga reda, kuamati smartphone yang tidak lagi memiliki fungsi itu sejak tidak adanya kamu. Lampunya berkedip dua kali menandakan adanya pesan masuk. Aku tidak terlalu berharap pesan itu darimu, namun naif sekali jika aku menolak untuk berharap bahwa pesan itu semoga dari kamu. Ya, benar pesan itu ternyata dari operator.

Pagi yang hujan sama hujannya dengan keadaan hati yang lara merindukan sapaan pagi, yang biasanya kita lakukan setiap hari minimal mengucap, “selamat pagi” seperti yang dilakukan oleh kasir di toko-toko alfamart dan indomart setiap hari ketika adanya pelanggan yang mengunjungi.

Hujan itu pun hilang ketika waktunya telah tiba, lalu apakah kamu juga akan benar-benar hilang ketika waktunya sudah tiba? Waktu adalah penawar ampuh penyembuh luka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s