Pembacaan dekonstruktif dalam Film Mandarin Ne Zha 2019

 Film Mandarin Nhe Zha merupakan film action fantasi yang menceritakan anak laki-laki bernama Nhe Zha yang tertukar benih jiwanya dengan anak naga. Nhe Zha adalah putra dari raja dan ratu yang terhormat. Ratu yang tak kunjung-kunjung melahirkan padahal usia kandungannya melebihi sembilan bulan. Ia selalu mengunjungi ahli spiritual untuk mengetahui kapan anaknya akan terlahir hingga ia muak dan akhirnya berjalan dengan melompat tanpa memperdulikan kandungannya. Sebab ia tahu kalau kandungannya akan baik-baik saja karena selama ini ia belum mengalami tanda-tanda datangnya kelahiran. Terlambatnya Ne Zha lahir karena ia adalah anak istimewa yang akan menerima benih-benih jiwa kebaikan dari dewa, namun sayang jiwa kebaikan itu tertukar karena dewa konyol yang mabuk lalai terhadap penjagaan benih jiwa yang baik dan benih jiwa yang buruk.

Benih jiwa yang baik seharusnya ditanamkan pada bayi Nhe Zha akhirnya tertukar, benih jiwa kebaikan itu dicuri oleh Oaping yang bersekutu dengan naga yang terbuang, naga yang dikurung di dasar laut oleh dewa langit akibat kesalahan yang diperbuat. Tidak terima dengan takdirnya yang terkurung dalam ruang hampa dan sesak di dasar yang gelap, naga pun bekerjasama dengan Oaping untuk bisa terbebas dan bisa naik lagi menuju langit untuk balas dendam kepada dewa langit.

Benih jiwa kebaikan yang telah dicuri oleh Oaping ditanamkan pada telur naga. Jiwa naga yang baik nantinya diharapkan menjadi pahlawan dan memberantas keburukan yang akan diperbuat oleh benih jiwa jahat, Nhe Zha. Naga ingin kehormatannya dikembalikan dan diakui lagi oleh dewa langit, sehingga ia bekerjasama dengan Oaping untuk mencapai tujuan itu dan menjadikan anaknya sebagai pahlawan. Namun, siapa sangka ternyata bibit kejahatan yang tertanam pada Nhe Zha malah menjadi terbalik.

Nhe Zha memang anak yang nakal dan usil karena kesepian dan kesendiriannya, orang-orang menyebutnya siluman karena jiwa keburukan yang tertukar tertanam pada dirinya. Nhe Zha tidak diterima oleh masyarakatnya sehingga ia terkurung dan aktivitasnya dibatasi, namun karena kecerdikannya ia mampu untuk keluar dari kekangan penjaga yang dibuat oleh orang tuanya. Orang tua adalah teman Nhe Zha satu-satunya, terlebih ibunya merupakan satu-satunya yang berusaha meluangkan banyak waktu untuknya.

Suatu hari, Nhe Zha hendak dijahili oleh anak-anak yang tidak menyukainya bahkan mereka memasang jebakan untuk Nhe Zha. Namun, karena kecerdikan dan kesaktian yang dimiliki Nhe Zha yang terjadi malah sebaliknya, senjata makan tuan. Nhe Zha menyamar menjadi salah satu anggota dari anak-anak jahil yang mengerjainya, ia sendiri menikmati jebakan yang dibuat untuk dirinya ternyata berbalik menjebak para pembuat jebakan. Anak-anak itu tidak menerima dan marah sehingga kalimat fatal yang dibenci oleh Nhe Zha keluar dari mulut mereka, “Anak siluman.” Nhe Zha yang tidak terima dengan perkataan mereka akhirnya marah dan hampir membunuh anak-anak itu. Namun, dewa yang menanamkan benih jiwa keburukan datang dan menyelamatkan anak-anak itu dan berusaha menenangkan Nhe Zha. Ia menawarkan suatu kesepakatan supaya Nhe Zha dapat diterima oleh masyarakatnya, yaitu dengan cara melindungi rakyatnya dari para siluman, ia harus membunuh siluman yang dapat membahayakan nyawa rakyatnya. Nhe Zha pun sepakat dan berlatih bagaimana menangkap siluman dan mengontrol kekuatannya supaya ia tidak lagi menyakiti siapapaun. Ia dilatih oleh dewanya dalam suatu lukisan, mereka masuk ke dalam lukisan menuju alam lain tempat mereka berlatih secara leluasa.

Nhe Zha anak yang cerdas dan cepat tanggap, ilmu-ilmu yang diajarkan oleh dewa dapat dikuasainya dengan cepat dan tepat hingga suatu ketika ia mengerjai dewa yang sekaligus menjadi gurunya. Ia menyamar menjadi ibunya dan menemui gurunya. Nhe Zha benar-benar mahir dalam meniru emosi lembut ibunya sehingga gurunya tidak mampu mengenalinya sama sekali. Nhe Zha membuat wujud dirinya dari air, tubuh Nhe Zha palsu mengapung di atas kolam sehingga gurunya pun panik dan terjun langsung menyelamatkannya. Gurunya tertipu dan Nhe Zha menikmati kekonyolan yang ia buat sendiri. Setelah menguasai teknik-teknik yang diajarkan oleh gurunya, Nhe Zha pun keluar dari dalam lukisan.

Nhe Zha mempraktekkan apa yang ia pelajari hingga di suatu sore ia menjumpai siluman kodok yang memakan makhluk hidup dan mengancam keselamatan warganya. Siluman kodok itu memakan anjing penjaga milik warga dan diketahui oleh Nhe Zha. Mengetahui keberadaan siluman, Nhe Zha pun mengejarnya hingga ditengah pengejaran, siluman kodok itu menculik anak kecil, seorang perempuan kecil adik dari salah satu anak-anak yang menjahili Nhe Zha. Siluman yang tidak dapat dilihat oleh manusia mengira Nhe Zha yang menculik anak perempuan itu, karena dalam pengejaran itu yang terlihat hanya Nhe Zha yang berlari dan seketika anak perempuan itu hilang. Kesalahpahaman pun terjadi disini, anak yang menjahili Nhe Zha melapor kepada warga dan menuduh Nhe Zha yang telah menculik adiknya.

Nhe Zha sedikit kesulitan mengahadapi siluman kodok hingga secara tiba-tiba muncullah anak naga yang bernama…siapa ya, saya lupa namanya. Anak naga itu adalah muridnya Oaping, anak naga yang jiwanya tertanam bibit kebaikan yang seharusnya dimiliki oleh Nhe Zha. Anak naga itu seumuran dengan Nhe Zha, namun karena kalung sakti yang dipasangkan dewa waktu Nhe Zha lahir karena hampir membunuh masyarakat dan warganya menjadi penghambat pertumbuhan Nhe Zha, sehingga anak yang seharusnya sudah dewasa berusia tujuh belas tahun terjebak dalam tubuh anak kecil. Anak naga itu adalah teman pertama dan satu-satunya yang menerima Nhe Zha karena keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama tidak diakui oleh masyarakat. Naga yang telah jatuh imagenya tidak lagi diterima di kalangan manusia ataupun di alangan dewa sehingga mereka saling memahami. Nhe Zha sempat bermain dengan teman barunya dan anak naga itu pun menikmatinya karena hal itu merupakan hal baru bagi mereka berdua.

Warga yang salah paham dengan informasi yang diberikan oleh kakak dari korban penculikan mendatangi Nhe Zha ke pinggir pantai tempat mereka berdua, Nhe Zha dan anak naga bermain. Mengetahui kedatangan warga, anak naga itu pun seketika menghilang karena ia tahu kehadirannya dimusuhi oleh manusia. Nhe Zha yang telah menyelamatkan anak kecil itu berharap dengan tindakannya dapat diterima oleh warga, namun warga ternyata termakan oleh provokasi dan kesalahpahaman yang dibuat oleh anak jahil yang membenci Nhe Zha. Ia pun diserang dan diperlakukan layaknya sebagai siluman sungguhan yang menculik dan mengancam nyawa manusia. Tidak terima dengan ketidakadilan dan tidak adanya penghargaan atas kebaikannya, Nhe Zha pun menyerang warga itu dan melukai mereka. Orang tua Nhe Zha datang dan juga gurunya, sang dewa. Tidak ada yang mempercayai Nhe Zha kecuali orang tuanya, terlebih ayahnya. Ia mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang berkhianat, namun Ayah Nhe Zha yang menjabat juga sebagai Raja tidak bisa secara penuh membela anaknya secara pribadi karena rakyatnya. Ia memilih untuk diam dan menerima tuduhan rakyat atas anaknya, Ia diam bukan berarti menyalahkan Nhe Zha. Namun, membisunya Raja membuat Nhe Zha salah paham dan juga melukai hati serta mengecewakan Nhe Zha. Nhe Zha pun dikurung lagi dan penjagaan terhadapnya dilakukan lebih ketat dari sebelumnya dan wilayah kebebasan Nhe Zha pun dibatasi menjadi lebih kecil.

Di balik terkurungnya Nhe Zha dan kesendiriannya, ia diam-diam merindukan sahabatnya, anak naga. Ia pun menulis surat untuknya untuk dapat menghadiri acara ulang tahun Nhe Zha yang ke tujuh belas tahun. Acara itu adalah hari dimana anak naga harus membunuh Nhe Zha, si jiwa keburukan. Di hari bahagianya itu, Nhe Zha ditemui oleh Oaping dan menceritakan rahasia yang tidak ia ketahui, yaitu keterangan jiwa yang ada di dalam dirinya adalah memang benar jiwa siluman keburukan sehingga ia dimusuhi bahkan ingin dihabisi oleh warganya sendiri. Oaping pun menceritakan rahasia utama pengontrol kekuatan yang menghambat pertumbuhannya adalah kalung sakti yang dipasangkan dewa di lehernya. Nhe Zha merasa semuanya tidak adil, hari itu adalah hari diaman ia dijadwalkan untuk mati dan dibunuh oleh anak naga. Namun, di samping itu, anak naga mengalami kebimbangan dan ragu serta tidak tega untuk membunuh sahabat satu-satunya yang menerima dia. Anak naga pun dinasehati dan diberikan jubah pelindung dari sisik naga oleh masing-masing naga yang terkurung di dasar bumi.

Sesampainya di rumah Nhe Zha, ia mendapati Nhe Zha sedang mengamuk dengan wujud aslinya, anak laki-laki tinggi yang seusia dengannya karena Nhe Zha telah melepaskan kalung pengontrolnya. Nhe Zha mengamuk dan hampir membunuh orang tua dan warganya karena ketidakadilan dan gejolak emosi yang dialami. Anak naga yang melihat itu langsung menghentikan Nhe Zha dan bertarung melawannya hingga ia bisa mengalahkan Nhe Zha. Nhe Zha yang tidak menerima kenyataan dan serangan dari sahabatnya sendiri keluar menuju hutan untuk melampiaskan kesedihannya. Anak Naga adalah pahlawan yang diakui di wilayah kerajaan Ayah Nhe Zha. Dengan pertolongannya itu, Raja atau Ayah Nhe Zha mempersilahkannya untuk dijamu sebagai ucapan teri maksih, namun anak naga menolak dan lebih memlih untuk kembali ke dasar lautan. Tidak pantas seorang pahlawan diperlakukan biasa-biasa saja, akhirnya Raja mengejarnya dan di balik jubahnya terlihat berkilau sisik dan tanduknya di pelipis dahi tepat di atas telinganya. Raja yang mengetahui ada naga yang masuk ke wilayahnya pun berbalik menyerang dan tidak menerima pertolongan dari naga. Anak naga pun marah karena kebaikannya tidak dihargai sehingga ia berbalik menyerang warga dan Raja yang memusuhinya. Ia berubah wujud asli menjadi seeokor naga dan berniat mengubur wilayah kerajaan itu dengan menutupinya dengan es yang membeku.

Nhe Zha yang berada di hutan dengan kesedihannya tidak mengetahui itu hingga muncullah babi terbang, peliharaan dewa sekaligus gurunya. Ia menghadiahi Nhe Zha babi terbangnya supaya Nhe Zha bisa menjadi manusi yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan menyebar kebaikan. Babi terbang itu menunjukkan masa lalu yang tidak diketahui Nhe Zha, masa lalu ayahnya yang mendatangi dewa utama, guru dari dewa yang menjadi gurunya Nhe Zha. Dalam penglihatannya itu, Raja atau Ayah Nhe Zha bersedia mengorbankan dirinya supaya Nhe diberikan umur yang panjang dan menukarkan umurnya dengan Nhe Zha karena sesungguhnya Raja amat sayang kepada Nhe Zha. Nhe Zha yang sadar dengan hal itu langsung bangkit dan kembali ke rumahnya dan ia mendapati anak naga yang akan membunuh semua orang, warganya termasuk orang tuanya dengan mengukuubur daerah itu dengan es yang membeku.

Nhe Zha pun berubah ke wujud aslinya dan kali ini ia dapat mengontrol kekuatannya, ia melawan sahabatnya sendiri untuk melindungi warga dan orang tuanya. Jiwa kebaikan dan keburukan pun bertempur, kedua kekuatan itu saling mengungguli sehingga yang memenangkan pertrungan itu adalah keduanya karena mereka sama-sama lenyap secara fisik ditelan oleh kekuatannya masing-masing, namun jiwa kebaikan dan keburukan itu mampu diselamatkan untuk melahirkan Nhe Zha dan anak naga yang baru dengan jiwa-jiwa kebaikan dan keburukan yang baru.

Dengan demikian, apa yang disebut dan diklaim sebagai suatu kebenaran dan kebaikan tidak selalu nampak menjadi baik sesuai dengan pemahaman umum masyarakat. Begitu juga dengan keburukan, apa yang selalu dianggap buruk tidak selalu buruk melainkan kedua nilai ini kebaikan dan keburukan saling melengkapi dan muncul dalam konteks dan waktu yang berbeda. Bibit baik dapat menjadi buruk ketika ia ditanamkan pada lingkungan yang buruk dan bibit buruk dapat menjadi baik ketika ditanamkan pada lingkungan yang baik. Jadi, kebaikan dan keburukan itu selalu melingkupi kita, dua energi yang saling melengkapi, seimbang, ying dan yang seperti penjelasan di film Avatar The Legend Of Aang pada episode Kutub Utara ketika ia bertemu dengan roh Twi dan La.

Tamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s