Menjadi Diri Sendiri

Andaikan kita adalah orang yang baik, kita tidak bisa menuntut orang lain supaya mereka menjadi baik, memperlakukan kita dengan baik sebagaimana kita bersikap baik pada mereka.

Andaikan kita seorang yang yang jujur, kita tidak bisa mengharapkan kejujuran orang lain sebagaimana kita jujur kepada mereka.

Andaikan kita seorang yang amanah, kita tidak bisa menuntut orang lain juga dapat amanah sebagaimana sikap amanah kita terhadap mereka. Kita tidak bisa sepenuhnya mendapatkan apa yang kita inginkan.

Seorang lelaki berpegang teguh pada pendiriannya, ia adalah seorang yang jujur dan amanah. Setiap yang dikerjakannya selalu berdasarkan kejujuran, dan tentu saja ia jujur terhadap orang lain. Namun, suatu ketika ia dikhianati bahkan mengalami pengkhianatan bertubi-tubi. Dari pengkhianatan-pengkhianatan yang telah ia terima, seharusnya ia bisa belajar dan dapat mengambil satu pelajaran untuk tidak terlalu percaya dengan orang lain. Namun, ia tetap bertahan pada prinsip kejujurannya.

“Aku tidak pernah berbohong selama ini, aku selalu jujur kepada mereka. Dasar mereka tidak tahu diri!” geramnya.

Mendengar kalimat itu, aku pun memberikan jawaban.

“Yah…kita tidak bisa mengharapkan, tidak bisa membuat, bahkan tidak bisa mengatur orang lain untuk sepenuhnya jujur sebagaimana kita jujur kepada mereka. Orang lain belum tentu sama berpikirnya dengan kita, dan belum tentu mereka benar-benar peduli dengan kita. Yah, berhentilah. Jangan pernah berharap orang lain akan memperlakukan kita sama sebagaimana kita mempelakukan mereka. Walaupun ada, namun langka, hanya sedikit, sekian persen dari sekian banyak manusia di dunia ini yang kita kenal. Kalaupun ada, bisa saja kita malah terjebak dengan mereka. Bagaikan mencari jarum di dalam jerami, jangankan menemukannya, tertusuk mah iya. Kalaupun ketemu, sebaliknya kita akan terluka, Yah.” Andaikan dasar dari diri kita baik, jujur, dan amanah maka teruskanlah tanpa harus memandang atau mengharapkan imbalan dari setiap perilaku kita. Kebaikan akan selalu datang tanpa diketahui kapan dan melalui apa kebaikan itu akan tiba.

Suatu ketika salah seorang perempuan bersama dengan ibunya berhenti di tengah jalan. Motornya mogok, di siang bolong, sepi tidak ada satupun orang yang melewati jalan itu. Suasana sepi semakin terasa ketika suara speaker masjid mulai terdengar, petanda waktu zuhur telah tiba dan hari itu pun hari Jumat, menambah kesunyian di siang itu karena kaum laki-laki telah berangkat ke masjid. Tidak ada lagi harapan, hingga perempuan itu merenung.

“Ini adalah takdir yang tidak aku ketahui kemarin dan terjadi padaku hari ini” (di dalam hati).

Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengutak-atik motor yang mogok itu. Pertolongan tidak disangka-sangka datang menghampirinya, seorang laki-laki tua mendatanginya, membawakan seutas tali kawat besi dan membantu perempuan itu supaya dapat sampai pada tujuannya. Mereka sangat berterima kasih dengan pertolongan Pak Tua yang tidak dikenalnya.

Sang ibu lalu mengatakan, “Ingat ini, Nak. Beginilah kebaikan datang tidak disangka-sangka. Tadi kita begitu kebingungan dan berdiam diri tidak bisa berbuat apa-apa sampai Pak Tua itu datang menolong kita. Ini adalah bukti kalau kita pernah berbuat baik dan menolong orang lain. Oleh karena itu, Nak. Jangan perhitungan dan jangan sungkan-sungkan menolong orang lain karena kebaikan datang pada kita dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Kita tidak tahu hari esok

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui hari esok

Esok adalah rahasia

 Yakinlah, karena keyakinan tidak akan menggoyahkan keraguan

Apa yang kamu yakini, itu yang akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s