Katanya Melawan Struktur, Kok Malah Terstruktur?

Kita berbicara kebebasan, namun sejatinya kita tidak sepenuhnya terbebas. Ketika kita berbicara kebebasan atas struktur bahkan melawan struktur, pada kenyataannya kita tidak bisa melawan dan juga merdeka dari struktur. Jika dilawan, pilihannya cuma dua, kamu mati atau kamu selamat. Ironi sekali ketika kebebasan cuma dibahas hanya di meja belajar tanpa berani untuk mengeksplorasikannya dalam bentuk tindakan nyata, real. Teori-teori kebebasan berpikir sudah didapatkan, bahkan sudah dikuasai. Namun, apa yang bisa dilakukan dengan hanya berteori, namun tidak mampu untuk bertindak. Sedih sekali rasanya cerdas berargumen, namun tidak ada pembuktian nyata untuk membebaskan diri dari apa yang dipelajari. Katanya, “manusia dijajah oleh pengetahuannya.” Kita menyadari itu, namun diaplikasikan juga kepada manusia lain untuk menjajah pengetahuannya kepada orang lain.

 Apa sih sebenarnya yag ingin kita capai dari semua ini?  Katanya, “untuk memperoleh kesadaran baru,” apakah cuma sampai disini? Kesadaran yang seperti apa sebenarnya yang ingin dicapai tanpa adanya suatu perbuatan untuk membuktikannya? Saya pernah membaca suatu kutipan dari…saya lupa tokohnya siapa. Ia mengatakan “satu perbuatan lebih baik dari sepuluh teori.” Ya, memang benar, karena tindakan tanpa adanya teori sepertinya kurang pas dan tidak seimbang, dalam hal ini saya tafsirkan teori sebagai alat berpikir. Tindakan tanpa berteori juga kurang seimbang, namun satu tindakan satu teori setidaknya lebih baik daripada bertindak tanpa berpikir dan berpikir tanpa bertindak.  

Saya mulai berpikir, kenapa orang-orang bisa merasa “dirinya paling benar” sehingga argumen bahkan pikiran-pikiran kita, cara kita memahami sesuatu yang ia pahami itu menjadi salah. Seolah, yang benar itu adalah “cara berpikir saya dan kamu harus paham apa yang saya pikirkan, kamu harus paham sebagaimana saya memahaminya.” Egois sekali bukan. Kita belajar cara berpikir orang lain bukan berarti kita harus sepemahaman dengan mereka, bukan? Setidaknya kita memiliki konsepsi tentang suatu pengetahuan dari sumber yang sama. Bukankah kita ingin membebaskan diri dari kungkungan dan penjara struktur? Tapi, kenapa malah kita terpenjara dalam pemahaman dan pemikiran kita masing-masing?

Ketika kita memiliki suatu konsep tentang suatu hal, seharusnya konsep itu diarahkan sesuai dengan pemikiran kita, bukan?

Dunia ini adalah tempat para agen-agen bersaing untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan sebagaimana dikatakan Bourdieu (Habitus x ranah + modal= praktek). Dalam keadaan simbiosis mutualisme ini, setidaknya kita jangan memenjarakan orang lain dalam pemahaman kita, penguasa struktur. Ini yang belum dapat terpecahkan sampai sekarang, “kenapa kita membicarkan kebebasan struktur, sedangkan kita sendiri tidak dapat bebas dari struktur itu?” Bukankah, memenjarakan pemahaman kita pada orang lain merupakan suatu praktek struktur? Lalu, kenapa kita harus sibuk-sibuk menolak struktur itu kalau pada kenyataannya kita terlibat juga sebagai agen yang menjalankan struktur?

Jadi, kebebasan itu apa sih?

Kebebasan berpikir itu apa sih?

Kesadaran baru itu apa?

Ketika berbicara postmodern, namun tidak tahu akar dan dasarnya ya beginilah jadinya, “merasa benar sendiri.”

“Bagi saya, postmodern itu adalah ketika kita menerima dan menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kapasitas masing-masing (Fahruddin Faiz).”

Kritik diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s