KONSEP DESA WISATA : SUMBER PENGHASILAN MASYARAKAT

Bebicara tentang wisata tentunya membawa pengetahuan kita pada kegiatan bepergian,  bersenang-senang, bertamsya dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan batiniah sesorang, karena pada dasarnya kegiatan wisata merupakan kegiatan yang dapat menyenangkan hati. Dengan demikian, kegiatan berwisata tidak terbatas pada tempat yang secara umum diketahui, seperti wisata alam dengan mengunjungi pantai, pegunungan, dan taman nasional, melainkan mencakup wisata sosial-budaya. Pada dewasa ini, jenis wisata sosial-budaya merupakan suatu tujuan wisata yang menarik dan berkembang secara umum di Indonesia, diamana yang termasuk wisata sosial-budaya menurut Widyastuti, dkk (2017) adalah monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan-bangunan keagamaan, serta tempat-tempat bersejarah lainnya.

Dalam wisata sosial-budaya tentunyan memiliki faktor penting yang mendukung keberhasilan suatu objek wisata, yaitu pengelolaan suatu daerah yang menjadi tujuan wisata dapat dikembangkan dengan baik. Maka dari itu, menjadi penting untuk merancang suatu konsep pembangunan pariwisata yang pada gilirannya akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat lokal, karena tentunya menyangkut kelangsungan hidup di tempat tujuan wisata (Wahyuni, 2018: 84). Dengan demikian, disinilah letak manfaat dari pariwisata itu sendiri karena dapat memperluas lapangan kerja, mulai dari penyediaan akomodasi, tempat makan, pengembangan sentra industri yang dapat meningkatkan taraf hidup, dan tentunya menimbulkan rasa bangga bagi penduduk untuk tetap tinggal di desanya (Herawati dalam Sahawi, 2015: 25).

  1. Konsep Desa Wisata

Desa wisata merupakan kawasan pedesaan yang menawarkan berbagai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya desa, serta memiliki potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen pariwisata (Hadiwijoyo, 2012). Wisata pedesaan pada sekarang ini dijadikan tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.  Dengan demikian, maka muncullah konsep desa wisata yang berkaitan dengan kearifan lokal (adat-istiadat, budaya, potensi, yang dikelola sebagai daya tarik wisata sesuai dengan kemampuan yang ditujukan untuk kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat.

Desa wisata menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian perdesaan baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makanan-minuman dan kebutuhan wisata lainnya (Hermawan, 2016 :107; Nur, dkk., 2018: 4;  Wahyuni, 2018: 88).

Gumelar (2010 dalam Zakaria., & Suprihardjo, 2014) menjelaskan komponen yang ada pada desa wisata, yaitu: (1) keunikan, keaslian, sifat, khas; (2) lokasi yang berdekatan dengan alam yang luas biasa; (3) memiliki peluang untuk berkembang; (4) berkaitan dengan kelompok yang secara hakiki dapat menarik minat pengunjung.

 Sementara itu, Nuryanti (Wiendu, 1993 dalam Chusmeru dan Noegroho, 2010: 17; Wahyuni, 2018: 88) menjelaskan dua komponen utama dalam desa wisata, yaitu: akomodasi dan atraksi.

Akomodasi, merupakan sebagian dari tempat tinggal penduduk setempat dan atau/unitunit yang berkembang sesuai dengan tempat tinggal penduduk, dan atraksi, yakni seluruh kehidupan sehari-hari penduduk setempat beserta latar fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipan aktif, seperti kursus tari, bahasa dan lain-lain yang lebih spesifik (Hadiwijoyo, 2012).

Menurut Dinas Pariwisata DIY (2014: 26-29) kriteria dan faktor-faktor yang mendukung suatu desa untuk dijadikan tujuan wisata adalah:

  1. Memiliki potensi produk atau daya tarik unik dan khas yang mampu dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Potensi-potensi tersebut dapat berupa lingkungan alam maupun kehidupan sosial budaya masyarakat.
  2. Memiliki dukungan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) lokal yang cukup dan memadai untuk mendukung pengelolaan desa wisata.
  3. Faktor peluang akses terhadap akses pasar. Faktor ini memegang peran kunci, karena suatu desa yang telah memiliki kesiapan untuk dikembangkan sebagai desa wisata tidak ada artinya apabila tidak memiliki akses untuk berinteraksi dengan pasar atau wisatawan.
  4. Potensi SDM lokal yang mendukung peluang akses terhadap pasar wisatawan.
  5. Memiliki area untuk pengembangan fasilitas pendukung desa wisata, seperti: home stay, area pelayanan umum, area kesenian dan sebagainya.

Di samping itu, desa wisata yang berdasarkan pada karakteristik sumber daya dan keunikan yang dimilikinya, dikelompokkan menjadi empat kategori berikut.

  1. Desa wisata berbasis keunikan sumber daya budaya lokal sebagai daya tarik wisata utama.
  2. Desa wisata berbasis keunikan sumber daya alam sebagai daya tarik utama seperti pegunungan, perkebunan dan pertanian, pesisir.
  3. Desa wisata berbasis perpaduan keunikan sumber daya budaya dan alam sebagai daya tarik utama.
  4. Desa wisata berbasis keunikan aktifitas ekonomi kreatif seperti industri kerajinan sebagai daya tarik wisata utama (Dinas Pariwisata DIY, 2014: 26-29).

Berdasarkan tingkat perkembangannya, desa wisata dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Desa wisata embrio adalah desa yang mempunyai potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi desa wisata dan sudah mulai ada gerakan masyarakat untuk mengelolanya menjadi desa wisata.
  2. Desa wisata berkembang, yakni desa wisata embrio yang sudah dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa secara swadaya, sudah mulai melaksanakan promosi dan sudah ada wisatawan yang mulai tertarik untuk berkunjung.
  3. Desa wisata maju merupakan desa wisata yang sudah berkembang dengan adanya kunjungan wisatawan secara kontinu dan dikelola secara profesional dengan terbentuknya forum pengelola, seperti koperasi atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Desa wisata kategori ini telah mampu melakukan promosi dan pemasaran dengan baik (Victoria br. Simanungkalit, dkk. 2017: 20-21).
  4. Konsep Pengembangan Desa Wisata

Menurut I. Pitana (2009), pembangunan dan pengembangan pariwisata secara langsung akan menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, bisa dampak positif maupun negatif. Bagi masyarakat pengembangan pariwisata memiliki potensi manfaat yang sangat besar bagi ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, namun terkadang sering terjadi pengembangan pariwisata yang salah justru membawa banyak kerugian bagi masyarakat lokal itu sendiri.

Adanya berbagai manfaat dan tantangan memberikan gambaran bahwa pengembangan pariwisata bagaikan mengelola api, dimana pengelola dapat memanfaatkanya untuk kemaslahatan masyarakat namun di satu sisi dapat menimbulkan kerugian jika pengelolaan yang dilakukan tidak efektif (Hermawan, 2016: 107).

Pada konsep pengembangan wisata terdapat suatu alternatif yang disebut dengan Community Based Tourism (CBT) oleh Hausler (2005) sebagai bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pengembangan pariwisata. Fokus utama CBT menurut Pookaiyaudom (1999 dalam Pookaiyaudom, 2013: 2) adalah masyarakat lokal, dengan mendorong keterlibatan, partisipasi, dan manfaat bagi masyarakat dari kegiatan pariwisata, serta mendorong masyarakat menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan pengelolaan dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif, dan manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, dalam CBT terkandung konsep pemberdayaan masyarakat (Wahyuni, 2018: 84).

Ciri-ciri khusus dari Community Based Tourism menurut Hudson (Timothy, 1999:373; A’inun, Krisnani, & Darwis, 2018: 344) adalah berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dan adanya upaya perencanaan pendampingan yang membela masyarakat lokal serta lain kelompok memiliki ketertarikan/minat, yang memberi kontrol lebih besar dalam proses sosial untuk mewujudkan kesejahteraan. Sedangkan Murphy (1985:153) menekankan strategi yang terfokus pada identifikasi tujuan masyarakat tuan rumah dan keinginan serta kemampuan mereka menyerap manfaat pariwisata. Menurut Murphy setiap masyarakat harus didorong untuk mengidentifikasi tujuannya sendiri dan mengarahkan pariwisata untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat lokal. Untuk itu dibutuhkan perencanaan sedemikian rupa sehingga aspek sosial dan lingkungan masuk dalam perencanaan dan industri pariwisata memperhatikan wisatawan dan juga masyarakat setempat.

Wujud dari konsep community based tourism adalah dikembangkannya desa-desa wisat, dimana dalam desa wisata, masyarakat desa yang berada di wilayah pariwisata mengembangkan potensinya baik potensi sumber daya alam, budaya, dan juga potensi sumber daya manusianya (masyarakat setempat). Keberadaan desa wisata di Indonesia saat ini sudah semakin berkembang pesat. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, jumlah kunjungan ke desa wisata bertambah lima kali lipat. Mengacu data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, saat ini di Indonesia terdapat 987 desa wisata. Jumlahnya semakin meningkat sejak pertama diselenggarakannya desa wisata pada tahun 2009.

Desa wisata sebagai bentuk penerapan CBT menjadi pilihan wisata di Indonesia. Kearifan lokal dan tradisi budaya masyarakat menjadi penggerak utama kegiatan desa wisata. Selain itu, komunitas lokal yang tumbuh dan hidup berdampingan dengan suatu objek wisata menjadi bagian dari sistem ekologi yang saling terkait. Dengan demikian, keberhasilan pengembangan desa wisata tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat lokal (Wearing, 2002; Wahyuni, 2018: 84).

Di samping itu, Andriyani (2017: 2) juga menjelaskan tiga faktor yang yang mendukung perkembangan pariwisata pedesaan, yaitu: (1) potensi alam dan budaya pedesaan relatif lebih otentik dari pada wilayah perkotaan, dimana masyarakat desa masih menjalankan tradisi dan ritual-ritual budaya dan topografi yang cukup serasi; (2) lingkungan fisik pedesaan relatif masih asli atau belum banyak tercemar oleh beragam jenis polusi, dibandingkan dengan kawasan perkotaan; (3) dalam tingkat tertentu daerah pedesaan menghadapi perkembangan ekonomi yang relatif lambat, sehingga pemanfaatan potensi ekonomi, sosial dan budaya secara optimal merupakan alasan rasional pengembangan pariwisata pedesaan. Maka dari itu, konsep desa wisata menjadi sangat penting dikelola dan dikembangkan karena menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat.

  • Dampak Ekonomi Pariwisata

Pengembangan desa wisata di suatu daerah tentunya akan berimplikasi kepada masyarakat lokal secara ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan sekitar. Peningkatan ekonomi masyarakat lokal tidak terlepas dari keberadaan wisatawan yang datang berkunjung ke desa wisata. Wisatawan yang datang ke sebuah destinasi dalam jangka waktu tertentu, dalam menggunakan sumber daya dan fasilitas biasanya mengeluarkan uang untuk keperluan. Kemudian, meninggalkan tempat wisata untuk kembali ke negaranya. “Jika wisatawan yang datang ke sebuah destinasi tersebut sangat banyak akan berdampak pada kehidupan ekonomi daerah, baik langsung maupun tidak langsung.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan dapat bersifat positif maupun negatif” (Pitana dan Putu, 2009). Dampak pariwisata terhadap kondisi ekonomi dikategorikan dalam delapan kategori, yaitu:

  1. Dampak terhadap penerimaan devisa
  2. Dampak terhadap pendapatan masyarakat
  3. Dampak terhadap kesempatan kerja
  4. Dampak terhadap distribusi manfaat atau keuntungan
  5. Dampak terhadap kepemilikan dan kontrol (ekonomi) masyarakat
  6. Dampak terhadap pembangunan pada umumnya
  7. Dampak terhadap pendapatan pemerintah

Berkaitan dengan kepariwisataan, sektor ekonomi dapat menjadi indikator perkembangan suatu daerah yang menjadi destinasi wisata dan atau memiliki daya tarik wisata (Pamungkas dan  Muktiali, 2015: 364).  Peningkatan pendapatan bruto daerah, pendapatan perkapita penduduk, perkembangan sektor perniagaan, perkembangan sektor jasa, merupakan tolak ukur yang dapat dikaji penyebabnya dan dapat diukur pula proporsi peranan sektor kepariwisataan di dalamnya (Warpani, 2007;79-80).

Perkembangan ekonomi kawasan pedesaan dapat diukur dari pendapatan desa per kapita, pendapatan masyarakat, diversifikasi ekonomi (Adisasmita, 2006; Pamungkas dan Muktiali, 2015: 364). Pariwisata sebagai suatu industri memberikan dampak terhadap ekonomi baik untuk masyarakat lokal, daerah, maupun untuk negara. Dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata menurut Yoeti (2008) adalah :

  1. Dapat menciptakan kesempatan berusaha
    1. Dapat meningkatkan kesempatan kerja (employment)
    1. Dapat meningkatkan pendapatan
    1. Dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah dan retribusi daerah
    1. Dapat meningkatkan pendapatan nasional atau Gross Domestic Bruto (GDB)
    1. Dapat mendorong peningkatan infestasi dari sektor industri pariwisata dan sektor ekonomi lainnya
    1. Dapat memperkuat neraca pembayaran
  • Pengaruh Desa Wisata Terhadap Kondisi Sosial

Martin (1998 dalam Pitana dan Gayatri, 2005) menyatakan dampak sosial pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial akibat kedatangan wisatawan. Rakhmat (2001 dalam Wahyudi, 2014) menjabarkan perubahan sikap sebagai perubahan kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sedangkan, perubahan perilaku diartikan sebagai perubahan pola tindakan sebagai bentuk respon terhadap obyek yang ada disekitar lingkungannya.

  Terdapat tiga faktor yang mempengaruhibentuk sikap masyarakat terhadap pariwisata (Suharso, 2009: 82) yaitu:

  1. Hubungan wisatawan dan penduduk dapat mempengaruhi reaksi dan dukungan terhadap industri pariwisata
  2. Hubungan industri terhadap komunitas dan individu didasari kepentingan kemakmuran dan akan semakin dapat ditoleransi apabila terdapat konpensasi tertentu
  3. Hubungan yang dapat ditoleransi oleh penduduk setempat adalah hubungan yang dapat meningkatkan volume bisnis dari daerah tersebut

De Kant (1979) dalam Suharso (2009) mengidentifikasi tiga situasi yang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam pariwisata yaitu:

  1. Saat wisatawan membeli barang dan jasa pada penduduk lokal
  2. Saat wisatawan dan penduduk saling berdampingan dalam suatu aktivitas
  3.  Dalam situasi keduanya berhadapan untuk bertukar informasi dan ide-ide.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, A.A.I., dkk. (2017). “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata dan Implikasinya terhadap Ketahanan Sosial Budaya Wilayah ( Studi di Desa Wisata Penglipuran Bali)”. Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 23 (1), 1-16.

Chusmeru dan Noegroho, A. (2010). “Potensi Ketengger Sebagai Desa Wisata di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas”. Analisis Pariwisata, Vol. 10 (1), 16-23.

Dinas Pariwisata DIY. (2014). Kajian Pengembangan Desa Wisata di DIY. Laporan Akhir. DIY: Dinas Pariwisata DIY.

Hadiwijoyo, S.S. (2012). Perencanaan Pariwisata Pedesaan Basis Masyarakat. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hausler, N. (2005). Defnition of Community Based Tourism. Tourism Forum International at the Reisepavillon. Hanover 6 Pebruari 2005.

Hermawan, H. (2016). “Dampak Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal”. Jurnal Pariwisata, Vol. III (2), 105-117.

N, A’inun,F., Krisnani, H., & Darwis, R.S. 2018. 53. Pengembangan Desa Wisata Melalui Konsep Community Based Tourism. Prosiding KS: Riset & PKM, Vol. 2 (3), 301 – 444, ISSN: 2442-4480.

Nur, I., dkk. (2018). “Implikasi Pengembangan Desa Wisata Terhadappeningkatan Ekonomi Masyarakat Lokal (Studi Di Desa Pao)”. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper: Manajemen, Akuntansi dan Perbankkan, 1090-1104.

Pamungkas, I.T.D., & Muktiali, M. (2015). “Pengaruh Keberadaan Desa Wisata Karangbanjar Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan, Ekonomi Dan Sosial Masyarakat”. Jurnal Teknik PWK, Vol. 4 (3), 361-372.

Pitana, I.G. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pitana, I.G., & Gayatri, P.G.(2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sahawi, E. M. (2015). Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat. Laporan Studi Pustaka (KPM 403). Institut Pertanian Bogor: Departemen Sains Komunikasi Dan Pengembanganmasyarakat.

Suharso, T.S. (2009). Perencanaan Objek Wisata dan Kawasan Pariwisata. Malang: PPSUB.

Victoria br. Simanungkalit, dkk. (2017). Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau. Jakarta: Asisten Deputi Urusan Ketenagalistrikan dan Aneka Usaha Kementerian Koperas dan UKM Republik Indonesia.

Warpani., S, P., & Indira., P.W. (2007). Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah. Bandung: ITB.

Wahyudi, F.T. (2014). “ Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Tingkat Kesejahteraan dan Sosial Budaya Masyarakat Lokal.” Makalah diterbitkan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.

Wahyuni, D. (2018). “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul”. Jurnal Aspirasi, Vol. 9 (1), 83-100.

Widyastuti., dkk. (2017). Pariwisata Spiritual Daya Tarik Wisata Palasari Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.

Zakaria, F., & Suprihardjo, R.D. (2014). “Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan”. Jurnal Teknik Pomits. Vol. 3 (2), C245- C249.

Yoeti, O. A. 2008. Ekonomi Pariwisata Introduksi, Informasi, dan Implemantasi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s