Terjaga

Pukul 0: 28 WIB

Andaikan mereka dapat berbicara

“Otakku, kenapa juga kamu belum lelah dan belum menyerah memaksaku untuk selalu menulis apa yang kamu pikirkan, tidakkah kamu lelah? Aku, tangan yang mengetik apa yang ingin kamu sampaikan sudah pegal dan muak mengikuti inginmu sejak tengah malam kemarin. Kenapa kamu egois seperti ini terhadapku?”

“Tidak, tidak boleh. Jika aku istrihat membawa pikiran-pikiran ini, nanti bisa lenyap dan tidak akan ku temui lagi. Kamu adalah mediaku.”

“Tapi aku capek.”

“Tapi aku lebih capek menahan beban ini.”

Pikiran-pikiran ini menuntunku untuk menulis apa yang ingin aku tulis, padahal aku tidak tahu harus menulis apa, namun tetap saja ingin menulis.

“Mau menulis apa?”

“Menulis apa yang ingin aku tulis.”

Tamat.

Pembacaan dekonstruktif dalam Film Mandarin Ne Zha 2019

 Film Mandarin Nhe Zha merupakan film action fantasi yang menceritakan anak laki-laki bernama Nhe Zha yang tertukar benih jiwanya dengan anak naga. Nhe Zha adalah putra dari raja dan ratu yang terhormat. Ratu yang tak kunjung-kunjung melahirkan padahal usia kandungannya melebihi sembilan bulan. Ia selalu mengunjungi ahli spiritual untuk mengetahui kapan anaknya akan terlahir hingga ia muak dan akhirnya berjalan dengan melompat tanpa memperdulikan kandungannya. Sebab ia tahu kalau kandungannya akan baik-baik saja karena selama ini ia belum mengalami tanda-tanda datangnya kelahiran. Terlambatnya Ne Zha lahir karena ia adalah anak istimewa yang akan menerima benih-benih jiwa kebaikan dari dewa, namun sayang jiwa kebaikan itu tertukar karena dewa konyol yang mabuk lalai terhadap penjagaan benih jiwa yang baik dan benih jiwa yang buruk.

Benih jiwa yang baik seharusnya ditanamkan pada bayi Nhe Zha akhirnya tertukar, benih jiwa kebaikan itu dicuri oleh Oaping yang bersekutu dengan naga yang terbuang, naga yang dikurung di dasar laut oleh dewa langit akibat kesalahan yang diperbuat. Tidak terima dengan takdirnya yang terkurung dalam ruang hampa dan sesak di dasar yang gelap, naga pun bekerjasama dengan Oaping untuk bisa terbebas dan bisa naik lagi menuju langit untuk balas dendam kepada dewa langit.

Benih jiwa kebaikan yang telah dicuri oleh Oaping ditanamkan pada telur naga. Jiwa naga yang baik nantinya diharapkan menjadi pahlawan dan memberantas keburukan yang akan diperbuat oleh benih jiwa jahat, Nhe Zha. Naga ingin kehormatannya dikembalikan dan diakui lagi oleh dewa langit, sehingga ia bekerjasama dengan Oaping untuk mencapai tujuan itu dan menjadikan anaknya sebagai pahlawan. Namun, siapa sangka ternyata bibit kejahatan yang tertanam pada Nhe Zha malah menjadi terbalik.

Nhe Zha memang anak yang nakal dan usil karena kesepian dan kesendiriannya, orang-orang menyebutnya siluman karena jiwa keburukan yang tertukar tertanam pada dirinya. Nhe Zha tidak diterima oleh masyarakatnya sehingga ia terkurung dan aktivitasnya dibatasi, namun karena kecerdikannya ia mampu untuk keluar dari kekangan penjaga yang dibuat oleh orang tuanya. Orang tua adalah teman Nhe Zha satu-satunya, terlebih ibunya merupakan satu-satunya yang berusaha meluangkan banyak waktu untuknya.

Suatu hari, Nhe Zha hendak dijahili oleh anak-anak yang tidak menyukainya bahkan mereka memasang jebakan untuk Nhe Zha. Namun, karena kecerdikan dan kesaktian yang dimiliki Nhe Zha yang terjadi malah sebaliknya, senjata makan tuan. Nhe Zha menyamar menjadi salah satu anggota dari anak-anak jahil yang mengerjainya, ia sendiri menikmati jebakan yang dibuat untuk dirinya ternyata berbalik menjebak para pembuat jebakan. Anak-anak itu tidak menerima dan marah sehingga kalimat fatal yang dibenci oleh Nhe Zha keluar dari mulut mereka, “Anak siluman.” Nhe Zha yang tidak terima dengan perkataan mereka akhirnya marah dan hampir membunuh anak-anak itu. Namun, dewa yang menanamkan benih jiwa keburukan datang dan menyelamatkan anak-anak itu dan berusaha menenangkan Nhe Zha. Ia menawarkan suatu kesepakatan supaya Nhe Zha dapat diterima oleh masyarakatnya, yaitu dengan cara melindungi rakyatnya dari para siluman, ia harus membunuh siluman yang dapat membahayakan nyawa rakyatnya. Nhe Zha pun sepakat dan berlatih bagaimana menangkap siluman dan mengontrol kekuatannya supaya ia tidak lagi menyakiti siapapaun. Ia dilatih oleh dewanya dalam suatu lukisan, mereka masuk ke dalam lukisan menuju alam lain tempat mereka berlatih secara leluasa.

Nhe Zha anak yang cerdas dan cepat tanggap, ilmu-ilmu yang diajarkan oleh dewa dapat dikuasainya dengan cepat dan tepat hingga suatu ketika ia mengerjai dewa yang sekaligus menjadi gurunya. Ia menyamar menjadi ibunya dan menemui gurunya. Nhe Zha benar-benar mahir dalam meniru emosi lembut ibunya sehingga gurunya tidak mampu mengenalinya sama sekali. Nhe Zha membuat wujud dirinya dari air, tubuh Nhe Zha palsu mengapung di atas kolam sehingga gurunya pun panik dan terjun langsung menyelamatkannya. Gurunya tertipu dan Nhe Zha menikmati kekonyolan yang ia buat sendiri. Setelah menguasai teknik-teknik yang diajarkan oleh gurunya, Nhe Zha pun keluar dari dalam lukisan.

Nhe Zha mempraktekkan apa yang ia pelajari hingga di suatu sore ia menjumpai siluman kodok yang memakan makhluk hidup dan mengancam keselamatan warganya. Siluman kodok itu memakan anjing penjaga milik warga dan diketahui oleh Nhe Zha. Mengetahui keberadaan siluman, Nhe Zha pun mengejarnya hingga ditengah pengejaran, siluman kodok itu menculik anak kecil, seorang perempuan kecil adik dari salah satu anak-anak yang menjahili Nhe Zha. Siluman yang tidak dapat dilihat oleh manusia mengira Nhe Zha yang menculik anak perempuan itu, karena dalam pengejaran itu yang terlihat hanya Nhe Zha yang berlari dan seketika anak perempuan itu hilang. Kesalahpahaman pun terjadi disini, anak yang menjahili Nhe Zha melapor kepada warga dan menuduh Nhe Zha yang telah menculik adiknya.

Nhe Zha sedikit kesulitan mengahadapi siluman kodok hingga secara tiba-tiba muncullah anak naga yang bernama…siapa ya, saya lupa namanya. Anak naga itu adalah muridnya Oaping, anak naga yang jiwanya tertanam bibit kebaikan yang seharusnya dimiliki oleh Nhe Zha. Anak naga itu seumuran dengan Nhe Zha, namun karena kalung sakti yang dipasangkan dewa waktu Nhe Zha lahir karena hampir membunuh masyarakat dan warganya menjadi penghambat pertumbuhan Nhe Zha, sehingga anak yang seharusnya sudah dewasa berusia tujuh belas tahun terjebak dalam tubuh anak kecil. Anak naga itu adalah teman pertama dan satu-satunya yang menerima Nhe Zha karena keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama tidak diakui oleh masyarakat. Naga yang telah jatuh imagenya tidak lagi diterima di kalangan manusia ataupun di alangan dewa sehingga mereka saling memahami. Nhe Zha sempat bermain dengan teman barunya dan anak naga itu pun menikmatinya karena hal itu merupakan hal baru bagi mereka berdua.

Warga yang salah paham dengan informasi yang diberikan oleh kakak dari korban penculikan mendatangi Nhe Zha ke pinggir pantai tempat mereka berdua, Nhe Zha dan anak naga bermain. Mengetahui kedatangan warga, anak naga itu pun seketika menghilang karena ia tahu kehadirannya dimusuhi oleh manusia. Nhe Zha yang telah menyelamatkan anak kecil itu berharap dengan tindakannya dapat diterima oleh warga, namun warga ternyata termakan oleh provokasi dan kesalahpahaman yang dibuat oleh anak jahil yang membenci Nhe Zha. Ia pun diserang dan diperlakukan layaknya sebagai siluman sungguhan yang menculik dan mengancam nyawa manusia. Tidak terima dengan ketidakadilan dan tidak adanya penghargaan atas kebaikannya, Nhe Zha pun menyerang warga itu dan melukai mereka. Orang tua Nhe Zha datang dan juga gurunya, sang dewa. Tidak ada yang mempercayai Nhe Zha kecuali orang tuanya, terlebih ayahnya. Ia mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang berkhianat, namun Ayah Nhe Zha yang menjabat juga sebagai Raja tidak bisa secara penuh membela anaknya secara pribadi karena rakyatnya. Ia memilih untuk diam dan menerima tuduhan rakyat atas anaknya, Ia diam bukan berarti menyalahkan Nhe Zha. Namun, membisunya Raja membuat Nhe Zha salah paham dan juga melukai hati serta mengecewakan Nhe Zha. Nhe Zha pun dikurung lagi dan penjagaan terhadapnya dilakukan lebih ketat dari sebelumnya dan wilayah kebebasan Nhe Zha pun dibatasi menjadi lebih kecil.

Di balik terkurungnya Nhe Zha dan kesendiriannya, ia diam-diam merindukan sahabatnya, anak naga. Ia pun menulis surat untuknya untuk dapat menghadiri acara ulang tahun Nhe Zha yang ke tujuh belas tahun. Acara itu adalah hari dimana anak naga harus membunuh Nhe Zha, si jiwa keburukan. Di hari bahagianya itu, Nhe Zha ditemui oleh Oaping dan menceritakan rahasia yang tidak ia ketahui, yaitu keterangan jiwa yang ada di dalam dirinya adalah memang benar jiwa siluman keburukan sehingga ia dimusuhi bahkan ingin dihabisi oleh warganya sendiri. Oaping pun menceritakan rahasia utama pengontrol kekuatan yang menghambat pertumbuhannya adalah kalung sakti yang dipasangkan dewa di lehernya. Nhe Zha merasa semuanya tidak adil, hari itu adalah hari diaman ia dijadwalkan untuk mati dan dibunuh oleh anak naga. Namun, di samping itu, anak naga mengalami kebimbangan dan ragu serta tidak tega untuk membunuh sahabat satu-satunya yang menerima dia. Anak naga pun dinasehati dan diberikan jubah pelindung dari sisik naga oleh masing-masing naga yang terkurung di dasar bumi.

Sesampainya di rumah Nhe Zha, ia mendapati Nhe Zha sedang mengamuk dengan wujud aslinya, anak laki-laki tinggi yang seusia dengannya karena Nhe Zha telah melepaskan kalung pengontrolnya. Nhe Zha mengamuk dan hampir membunuh orang tua dan warganya karena ketidakadilan dan gejolak emosi yang dialami. Anak naga yang melihat itu langsung menghentikan Nhe Zha dan bertarung melawannya hingga ia bisa mengalahkan Nhe Zha. Nhe Zha yang tidak menerima kenyataan dan serangan dari sahabatnya sendiri keluar menuju hutan untuk melampiaskan kesedihannya. Anak Naga adalah pahlawan yang diakui di wilayah kerajaan Ayah Nhe Zha. Dengan pertolongannya itu, Raja atau Ayah Nhe Zha mempersilahkannya untuk dijamu sebagai ucapan teri maksih, namun anak naga menolak dan lebih memlih untuk kembali ke dasar lautan. Tidak pantas seorang pahlawan diperlakukan biasa-biasa saja, akhirnya Raja mengejarnya dan di balik jubahnya terlihat berkilau sisik dan tanduknya di pelipis dahi tepat di atas telinganya. Raja yang mengetahui ada naga yang masuk ke wilayahnya pun berbalik menyerang dan tidak menerima pertolongan dari naga. Anak naga pun marah karena kebaikannya tidak dihargai sehingga ia berbalik menyerang warga dan Raja yang memusuhinya. Ia berubah wujud asli menjadi seeokor naga dan berniat mengubur wilayah kerajaan itu dengan menutupinya dengan es yang membeku.

Nhe Zha yang berada di hutan dengan kesedihannya tidak mengetahui itu hingga muncullah babi terbang, peliharaan dewa sekaligus gurunya. Ia menghadiahi Nhe Zha babi terbangnya supaya Nhe Zha bisa menjadi manusi yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan menyebar kebaikan. Babi terbang itu menunjukkan masa lalu yang tidak diketahui Nhe Zha, masa lalu ayahnya yang mendatangi dewa utama, guru dari dewa yang menjadi gurunya Nhe Zha. Dalam penglihatannya itu, Raja atau Ayah Nhe Zha bersedia mengorbankan dirinya supaya Nhe diberikan umur yang panjang dan menukarkan umurnya dengan Nhe Zha karena sesungguhnya Raja amat sayang kepada Nhe Zha. Nhe Zha yang sadar dengan hal itu langsung bangkit dan kembali ke rumahnya dan ia mendapati anak naga yang akan membunuh semua orang, warganya termasuk orang tuanya dengan mengukuubur daerah itu dengan es yang membeku.

Nhe Zha pun berubah ke wujud aslinya dan kali ini ia dapat mengontrol kekuatannya, ia melawan sahabatnya sendiri untuk melindungi warga dan orang tuanya. Jiwa kebaikan dan keburukan pun bertempur, kedua kekuatan itu saling mengungguli sehingga yang memenangkan pertrungan itu adalah keduanya karena mereka sama-sama lenyap secara fisik ditelan oleh kekuatannya masing-masing, namun jiwa kebaikan dan keburukan itu mampu diselamatkan untuk melahirkan Nhe Zha dan anak naga yang baru dengan jiwa-jiwa kebaikan dan keburukan yang baru.

Dengan demikian, apa yang disebut dan diklaim sebagai suatu kebenaran dan kebaikan tidak selalu nampak menjadi baik sesuai dengan pemahaman umum masyarakat. Begitu juga dengan keburukan, apa yang selalu dianggap buruk tidak selalu buruk melainkan kedua nilai ini kebaikan dan keburukan saling melengkapi dan muncul dalam konteks dan waktu yang berbeda. Bibit baik dapat menjadi buruk ketika ia ditanamkan pada lingkungan yang buruk dan bibit buruk dapat menjadi baik ketika ditanamkan pada lingkungan yang baik. Jadi, kebaikan dan keburukan itu selalu melingkupi kita, dua energi yang saling melengkapi, seimbang, ying dan yang seperti penjelasan di film Avatar The Legend Of Aang pada episode Kutub Utara ketika ia bertemu dengan roh Twi dan La.

Tamat.

Menjadi Diri Sendiri

Andaikan kita adalah orang yang baik, kita tidak bisa menuntut orang lain supaya mereka menjadi baik, memperlakukan kita dengan baik sebagaimana kita bersikap baik pada mereka.

Andaikan kita seorang yang yang jujur, kita tidak bisa mengharapkan kejujuran orang lain sebagaimana kita jujur kepada mereka.

Andaikan kita seorang yang amanah, kita tidak bisa menuntut orang lain juga dapat amanah sebagaimana sikap amanah kita terhadap mereka. Kita tidak bisa sepenuhnya mendapatkan apa yang kita inginkan.

Seorang lelaki berpegang teguh pada pendiriannya, ia adalah seorang yang jujur dan amanah. Setiap yang dikerjakannya selalu berdasarkan kejujuran, dan tentu saja ia jujur terhadap orang lain. Namun, suatu ketika ia dikhianati bahkan mengalami pengkhianatan bertubi-tubi. Dari pengkhianatan-pengkhianatan yang telah ia terima, seharusnya ia bisa belajar dan dapat mengambil satu pelajaran untuk tidak terlalu percaya dengan orang lain. Namun, ia tetap bertahan pada prinsip kejujurannya.

“Aku tidak pernah berbohong selama ini, aku selalu jujur kepada mereka. Dasar mereka tidak tahu diri!” geramnya.

Mendengar kalimat itu, aku pun memberikan jawaban.

“Yah…kita tidak bisa mengharapkan, tidak bisa membuat, bahkan tidak bisa mengatur orang lain untuk sepenuhnya jujur sebagaimana kita jujur kepada mereka. Orang lain belum tentu sama berpikirnya dengan kita, dan belum tentu mereka benar-benar peduli dengan kita. Yah, berhentilah. Jangan pernah berharap orang lain akan memperlakukan kita sama sebagaimana kita mempelakukan mereka. Walaupun ada, namun langka, hanya sedikit, sekian persen dari sekian banyak manusia di dunia ini yang kita kenal. Kalaupun ada, bisa saja kita malah terjebak dengan mereka. Bagaikan mencari jarum di dalam jerami, jangankan menemukannya, tertusuk mah iya. Kalaupun ketemu, sebaliknya kita akan terluka, Yah.” Andaikan dasar dari diri kita baik, jujur, dan amanah maka teruskanlah tanpa harus memandang atau mengharapkan imbalan dari setiap perilaku kita. Kebaikan akan selalu datang tanpa diketahui kapan dan melalui apa kebaikan itu akan tiba.

Suatu ketika salah seorang perempuan bersama dengan ibunya berhenti di tengah jalan. Motornya mogok, di siang bolong, sepi tidak ada satupun orang yang melewati jalan itu. Suasana sepi semakin terasa ketika suara speaker masjid mulai terdengar, petanda waktu zuhur telah tiba dan hari itu pun hari Jumat, menambah kesunyian di siang itu karena kaum laki-laki telah berangkat ke masjid. Tidak ada lagi harapan, hingga perempuan itu merenung.

“Ini adalah takdir yang tidak aku ketahui kemarin dan terjadi padaku hari ini” (di dalam hati).

Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengutak-atik motor yang mogok itu. Pertolongan tidak disangka-sangka datang menghampirinya, seorang laki-laki tua mendatanginya, membawakan seutas tali kawat besi dan membantu perempuan itu supaya dapat sampai pada tujuannya. Mereka sangat berterima kasih dengan pertolongan Pak Tua yang tidak dikenalnya.

Sang ibu lalu mengatakan, “Ingat ini, Nak. Beginilah kebaikan datang tidak disangka-sangka. Tadi kita begitu kebingungan dan berdiam diri tidak bisa berbuat apa-apa sampai Pak Tua itu datang menolong kita. Ini adalah bukti kalau kita pernah berbuat baik dan menolong orang lain. Oleh karena itu, Nak. Jangan perhitungan dan jangan sungkan-sungkan menolong orang lain karena kebaikan datang pada kita dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Kita tidak tahu hari esok

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui hari esok

Esok adalah rahasia

 Yakinlah, karena keyakinan tidak akan menggoyahkan keraguan

Apa yang kamu yakini, itu yang akan terjadi.

Produktivitas sebagai Bukti Eksistensi Perempuan dalam Film 𝘚𝘶𝘥𝘥𝘦𝘯𝘭𝘺 𝘚𝘦𝘷𝘦𝘯𝘵𝘦𝘦𝘯

Big Liang Vs Little Liang

Film Cina berjudul 𝘚𝘶𝘥𝘥𝘦𝘯𝘭𝘺 𝘚𝘦𝘷𝘦𝘯𝘵𝘦𝘦𝘯 menceritakan Liang yang mencintai pacarnya begitu dalam, Mao. Baginya, Mao adalah segalanya, prince. Hubungan mereka berjalan selama sepuluh tahun sejak Mao menyatakan cintanya pada Liang sewaktu masih menjadi mahasiswa. Liang adalah seorang pelukis, sebelum ia mengenal cinta cita-citanya adalah menjadi pelukis hebat bahkan ia memiliki mimpi keluar negeri untuk mengembangkan bakatnya. Sayang, mimpi itu terkubur demi untuk bersama dengan sang prince, Mao. Hubungan mereka yang begitu lama membuat Liang menanti lamaran Mao. Namun, kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Di suatu pagi, di meja dapur ketika mereka sedang sarapan, Liang berharap Mao melamarnya. Liang memandangi pangerannya dengan penuh cinta. Sambil tersenyum, Liang menyelipkan tangannya di balik jas Mao, memasukkan tangannya ke dalam kantong kemeja mao dan mengambil cincin berlian. Liang optimis, dikira cincin itu akan digunakan untuk melamarnya. Namun, pernyataan Mao ternyata menghancurkan hatinya, “Cincin itu hadiah untuk Istri Tuan Gao,” bos kantornya. Karena begitu pentingnya perusahaan, bagaimanapun caranya Mao harus tetap mendapatkan hati Tuan Gao. Baginya, Tuan Gao adalah segalanya. Liang tidak bisa mengeskpresikan kekecewaannya, dia melampiaskannya dengan memakan semua camilan simpanannya yang telah ia segel. Dalam keadaan patah hati, apapun ia lakukan untuk menenangkan dirinya hingga suatu ketika ia menyimak iklan di tv yang menampilkan iklan coklat ajaib, coklat yang dapat membangkitkan jiwa muda bagi para penikmatnya. Iklan yang sesuai dengan keadaan Liang, ia langsung memesan coklat tersebut dan tiba pada esok harinya.

Dalam perjalanan menuju acara pernikahan sahabatnya, Liang dihentikan oleh pemilik coklat ajaib yang ia pesan sesuai iklan di tv. Begitu menerima coklat itu, si pemilik langsung hilang.

Liang tiba di acara pernikahan sahabatnya, namun Mao datang terlambat dan kedatangannya ke pesta hanya beberapa menit. Liang berharap Mao melamarnya saat itu juga, ia mengakui perasaannya di tempat umum di tengah tamu undangan dengan harapan pangeran Mao akan melamarnya. Namun, Liang dipermalukan, Mao tidak siap dan ia pergi begitu saja karena panggilan dari Tuan Gao lebih penting dari segalanya. Tidak terima dengan kenyataan itu, Liang pun mengejarnya. Liang mengemudi dalam keadaan syok, Mao tidak mengangkat telponnya, ia mengemudi begitu kencang hingga Liang tidak dapat mengejarnya. Satu kali jawaban dari panggilan Liang diterima oleh Mao, namun dengan jawaban yang tidak disangka-sangka, “kita break up.”

Liang terpuruk saat itu juga, tangannya gemetaran memegang kemudi stir mobilnya. Ia berusaha menerima kenyataan, meraih apa yang ada di dekatnya hingga berujung pada coklat ajaib. Liang pun memakan satu biji coklat ajaib dan beberapa menit kemudian, jiwa tua Liang yang berusia 28 tahun berubah menjadi 17 tahun. Belum sadar dengan dirinya yang berjiwa 17 tahun yang ia sebut sebagai Little Liang. Ia akhirnya menabrak mobil yang ada di depannya. Pikiran dan pandangannya tidak karuan, jiwa muda yang berada di masa depan.

Sahabatnya menelpon, namun little Liang tidak bisa mengaplikasikan smartphone, hingga ia dibantu oleh salah seorang pekerja yang bertugas menyebarkan selebaran poster. Little Liang begitu bingung hingga akhirnya ia menyadari kenyataan bahwa di dalam dirinya ada dua jiwa, jiwa tua dan jiwa muda. Jiwa tuanya yang memahami dunia dan jiwa muda yang lebih mengutamakan egonya.

Little Liang terbebas, ia tidak menyangka kalau dirinya, Big Liang tidak menjadi pelukis sesuai mimpinya, tidak belajar keluar negeri, dan menguburkan mimpinya hanya untuk bersama dengan laki-laki dambaannya, Prince Mao. Litte Liang yang energik dan lebih produktif dari pada Big Liang yang telah mengubur mimpinya demi cinta pangeran yang telah mencampakkannya.

Kebebasan Little Liang tidak dapat lagi dihentikan, hingga suatu ketika ia bertemu dengan lelaki yang membuatnya jatuh hati, Ying. Didalam sebuah kereta, ia melukis Ying secara diam-diam. Namun, Big Liang saat itu telah kembali dan meninggalkan kereta, lukisan dan kejadian tatapan mata dengan Ying.

Lukisan Ying yang dibuat Little Liang tersebar, dengan kombinasi warna yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan pasar hingga hasilnya diminati oleh Tuan Gao, bos pangeran Mao. Bagaimanapun caranya, Tuan Gao harus mendapatkan Liang sebagai agen yang dapat menguntungkan perusahaannya. Mao tidak yakin dengan kemampuan melukis Liang yang telah vakum selama sekian tahun lamanya. Namun, karena kebutuhan perusahaan dan keinginan Tuan Gao, akhirnya ia menerima tantangan untuk mendapatkan karya Liang. Ia meminta waktu 48 jam untuk mememnuhi keinginan Tuan Gao.

Mao mengundang Liang untuk bertemu, Liang yang masih mengharapkan pangerannya, tetap optimis dan menerima undangan itu. Mood Liang rusak ketika ia melihat Mao dengan sekretarisnya, seorang perempuan. Mao meminta Liang untuk membantunya, melukis suatu karya untuk kepentingannya. Big Liang rela melakukan apa saja demi kembalinya sang Prince Mao. Namun, Big Liang tidak mampu melukis, tangannya gemetar memegang pensil. Ia meminta izin untuk sementara ke belakang, namun diam-dian ia meminta bantuan Little Liang untuk memenuhi keinginan pangerannya. Little Liang setuju. Ia pun kembali ke meja pertemuan, namun Little Liang tidak menepati janjinya pada Big Liang. Ia pergi menemui Ying.

Kehadiran Little Liang membawa keberuntungan, ia benar-benar berbakat dan menguntungkan Tuan Gao, ia terikat kontrak kerja dengannya dan memberi Big Liang kesempatan untuk berkarya dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Liang benar-benar sukses dan satu kantor dengan Mao. Dengan produktivitas dan hasil kerja Liang membuat Mao berubah pikiran. Ia yang awalnya berselingkuh dan lebih memilih sekretarisnya dari pada Liang yang pasif, kini lebih memilih Liang yang produktif dan meninggalkan sekretarisnya. Big Liang yang sukses membuat Mao kembali lagi dan menebus kesalahannya, penghianatan atas janjinya sendiri untuk menikahi dan tidak meninggalkan Liang.

Saya sebagai penikmat film seharusnya menikmati, namun sebaliknya malah berpikir kemungkian-kemungkinan baru mengapa Liang ditinggalkan.

Apakah Mao meninggalkan Liang karena, (1) Ia tidak cinta lagi dengan Liang? (2) Ia lebih memilih sekretarisnya karena perasaan yang tumbuh akibat kebersamaan dan seringnya bertemu bahkan bersama sepanjang hari? (3) Ia meninggalkan Liang karena tidak produktif?

Jawabannya adalah yang ketiga, Liang ditinggalkan karena ia pasif dan dibutuhkan lagi dengan sekian alasan, tidak terkecuali “janji-janji masa lalu” karena ia menjadi lebih produktif dan menjadi wanita karir. Mao berpaling pada sekretarisnya karena Liang lebih produktif. Artinya, eksistensi Liang diakui ketika menjadi subjek yang produktif dan laki-laki juga memiliki sifat materialis sama halnya dengan perempuan, namun pada konteks dan kapasitas yang berbeda. Dalam konteks film ini, Liang tidak hanya dapat menjadi pasangan, namun juga menjadi simbol eksistensi diri bagi Mao dalam bentuk status sosial.

Tamat.

Katanya Melawan Struktur, Kok Malah Terstruktur?

Kita berbicara kebebasan, namun sejatinya kita tidak sepenuhnya terbebas. Ketika kita berbicara kebebasan atas struktur bahkan melawan struktur, pada kenyataannya kita tidak bisa melawan dan juga merdeka dari struktur. Jika dilawan, pilihannya cuma dua, kamu mati atau kamu selamat. Ironi sekali ketika kebebasan cuma dibahas hanya di meja belajar tanpa berani untuk mengeksplorasikannya dalam bentuk tindakan nyata, real. Teori-teori kebebasan berpikir sudah didapatkan, bahkan sudah dikuasai. Namun, apa yang bisa dilakukan dengan hanya berteori, namun tidak mampu untuk bertindak. Sedih sekali rasanya cerdas berargumen, namun tidak ada pembuktian nyata untuk membebaskan diri dari apa yang dipelajari. Katanya, “manusia dijajah oleh pengetahuannya.” Kita menyadari itu, namun diaplikasikan juga kepada manusia lain untuk menjajah pengetahuannya kepada orang lain.

 Apa sih sebenarnya yag ingin kita capai dari semua ini?  Katanya, “untuk memperoleh kesadaran baru,” apakah cuma sampai disini? Kesadaran yang seperti apa sebenarnya yang ingin dicapai tanpa adanya suatu perbuatan untuk membuktikannya? Saya pernah membaca suatu kutipan dari…saya lupa tokohnya siapa. Ia mengatakan “satu perbuatan lebih baik dari sepuluh teori.” Ya, memang benar, karena tindakan tanpa adanya teori sepertinya kurang pas dan tidak seimbang, dalam hal ini saya tafsirkan teori sebagai alat berpikir. Tindakan tanpa berteori juga kurang seimbang, namun satu tindakan satu teori setidaknya lebih baik daripada bertindak tanpa berpikir dan berpikir tanpa bertindak.  

Saya mulai berpikir, kenapa orang-orang bisa merasa “dirinya paling benar” sehingga argumen bahkan pikiran-pikiran kita, cara kita memahami sesuatu yang ia pahami itu menjadi salah. Seolah, yang benar itu adalah “cara berpikir saya dan kamu harus paham apa yang saya pikirkan, kamu harus paham sebagaimana saya memahaminya.” Egois sekali bukan. Kita belajar cara berpikir orang lain bukan berarti kita harus sepemahaman dengan mereka, bukan? Setidaknya kita memiliki konsepsi tentang suatu pengetahuan dari sumber yang sama. Bukankah kita ingin membebaskan diri dari kungkungan dan penjara struktur? Tapi, kenapa malah kita terpenjara dalam pemahaman dan pemikiran kita masing-masing?

Ketika kita memiliki suatu konsep tentang suatu hal, seharusnya konsep itu diarahkan sesuai dengan pemikiran kita, bukan?

Dunia ini adalah tempat para agen-agen bersaing untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan sebagaimana dikatakan Bourdieu (Habitus x ranah + modal= praktek). Dalam keadaan simbiosis mutualisme ini, setidaknya kita jangan memenjarakan orang lain dalam pemahaman kita, penguasa struktur. Ini yang belum dapat terpecahkan sampai sekarang, “kenapa kita membicarkan kebebasan struktur, sedangkan kita sendiri tidak dapat bebas dari struktur itu?” Bukankah, memenjarakan pemahaman kita pada orang lain merupakan suatu praktek struktur? Lalu, kenapa kita harus sibuk-sibuk menolak struktur itu kalau pada kenyataannya kita terlibat juga sebagai agen yang menjalankan struktur?

Jadi, kebebasan itu apa sih?

Kebebasan berpikir itu apa sih?

Kesadaran baru itu apa?

Ketika berbicara postmodern, namun tidak tahu akar dan dasarnya ya beginilah jadinya, “merasa benar sendiri.”

“Bagi saya, postmodern itu adalah ketika kita menerima dan menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kapasitas masing-masing (Fahruddin Faiz).”

Kritik diri.

Belajar Menenangkan Diri Dari Film Avatar The Legend Of Aang

Sumber gambar: google

Cara Menyeimbangkan Cakra Dalam Diri

Cakra, yaitu energi yang tersimpan dalam jiwa seseorang, seperti emosi, mental, karakter, spiritual, dan kesehatan tubuh.

Menyeimbangkan dirimu sebelum menyeimbangkan dunia, untuk menguasainya kamu harus membuka semua cakra

Air mengalir melalui sungai seperti energi yang mengalir di dalam tubuh. Ada beberapa kolam renang, dimana air berputar terlebih dahulu sebelum mengalir. Kolam itu seperti cakra kita. Jadi, cakra adalah kolam lilitan energi yang ada di dalam tubuh kita. Jika ada sesuatu lain di sekitarnya, anak sungai akan mengalir murni dan jernih. Namun, kehidupan yang kacau dan hal apa saja cenderung jatuh ke sungai. Yang terjadi adalah air tidak bisa mengalir, tetapi jika kita membuka jalan diantara kolam-kolam, energi bisa dialirkan.

Terdapat tujuh cakra yang berada di dalam tubuh. Setiap energi memiliki tujuan dan bisa dihambat oleh jenis kotoran tertentu. Berhati-hatilah, membuka cakra adalah pengalaman yang gigih dan begitu memulai proses ini, kau tidak dapat berhenti sampai semua ketujuh cakra terbuka.

  • Membuka cakra bumi

Cakra ini terletak di pangkal tulang belakang (muladhara). Ini berhubungan dengan kelangsungan hidup dan dihambat oleh rasa takut.

Apa yang kamu takutkan, biarkan semua ketakutanmu menjadi jelas bagimu.

Ketakutan: kau prihatin atas kelangsungan hidupmu, tetapi kau harus melepaskan ketakutan itu. Biarkan ketakukan itu mengalir terbawa oleh aliran sungai.

  • Membuka cakra air

Cakra air berhubungan dengan kesenangan dan dihambat oleh rasa bersalah (svadhisthana). Sekarang lihatlah semua kesalahan yang membebanimu.

Untuk apa kamu menyalahkan dirimu sendiri?

Lepaskan kesalahan-kesalahan yang sudah berlalu. Terimalah kenyataan bahwa hal-hal itu telah terjadi, tetapi jangan biarkan mereka mengaburkan dan meracuni energimu. Jika kau ingin membawa pengaruh positif di dunia, “kau harus memaafkan dirimu sendiri.”

  • Cakra api terletak di perut (manipura)

 Cakra ini berhubungan dengan tekad dan dihambat oleh rasa malu.

Hal-hal apa yang membuatmu malu?

Apakah kekecewaan terbesar yang ada dalam dirimu sendiri?

“Kau tidak akan pernah menemukan keseimbangan jika kau menolak bagian hidupmu ini.”

Ini berhubungan dengan cinta dan dihambat oleh kesedihan (anahata)

Luapkan semua kesedihan di depanmu. Dalam arti bahwa sadari semua kesedihanmu dan rasa kehilangan.  Kau memang merasa kehilangan besar, tapi cinta adalah formasi energi dan ia berputar di sekitar kita.

  • Cakra keempat terletak di hati

“cinta pengendali air untukmu belum meninggalkan dunia ini. Itu masih di dalam dirimu dan terlahir kembali dalam bentuk cinta yag baru.”

Biarkan rasa sakit mengalir.

  • Cakra suara terletak di tenggorokan (vishuddha)

Ini berurusan dengan kebenaran dan dihambat oleh dusta yang kita katakan pada diri kita sendiri.

Kau tidak bisa berbohong tentang sifatmu sendiri. Kau harus menerima “kau adalah kau.”

Cakra suara adalah cakra kebenaran.

  • Kolam energi keenam adalah cakra cahaya

Cakra ini terletak di tengah dahi (anja). Ini behubungan dengan wawasan dan dihambat oleh ilusi.

  • Cakra pemikiran terletak di mahkota kepala (sahasrara)

Jika kau menguasai cakra ini, maka kau dapat mengontrol pikiran dan tindakanmu. Ini berhubungan dengan kosmik murni dan dihambat oleh ketertarikan duniawi.

“Ilusi terbesar di dunia ini adalah ilusi perpisahan.”

Hal-hal yang kau pikir terpisah dan berbeda sebenarnya adalah satu dan sama. Kita semua adalah satu orang, tetapi kita hidup seolah terbagi. Kita semua terhubung. Bahkan perpisahan dari empat elemen adalah ilusi. Jika kau buka pikiranmu, kau akan melihat semua elemen adalah satu. Empat bagian dari keseluruhan yang sama. Bahkan, logam adalah bagian dari bumi yang telah dimurnikan atau disempurnakan.

Renungkan apa yang membuatmu terikat dengan dunia. Sekarang, biarkan semua keterikatan itu pergi. Biarkan mereka pergi menyusuri sungai; lupakan.

Belajarlah untuk membiarkan dia pergi atau kau tidak dapat membuka energi kosmik murni dari alam semesta mengalir.

“Kau harus belajar melepaskan.” Serahkanlah dirimu.

Sekarang pikirkan tentang keterikatanmu dan biarkan mereka pergi. Biarkan energi kosmos murni. Kau kemudian mampu untuk menghubungkan kesempurnaanmu atau “higherself.

Untuk menenangkan pikiran, maka kita harus menerima kenyataan hidup ini.

Hadapi ketakutan

Maafkan diri sendiri

Terima kenyataan

Terima rasa sakit

Jujur pada diri sendiri

Jangan takut dengan perpisahan karena perpisahan adalah ilusi

Belajarlah untuk melepaskan

Guru Aang, eps 39

Sekilas Pemahaman Hermeneutika

  1. Dari hermeneutika ke Metafisika

Dunia filsafat kontemporer yang berciri interpretasi membuat kita berada dalam ruang diskurusus filosofis yang terpecah-pecah. Maka disinilah letak hermeneutika sebagai filsafat menjadi solusi yang digunakan untuk menghadapi fenomena demikian, karena hermeneutika secara tradisional dipahami sebagai teori interpretasi yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari tradisi metafisika. Menurut kant, metafisikan bukan merupakan kebenaran yang rasional, melainkan sebagi sebuah delusi yang  hanya bisa disadari setelah melakukan dekonstruksi ulang terhadap kapasitas kognisi di luar pengalaman yang terbatas. Dalam arti bahwa rasio mengikuti berbagai interpretasi terhadap realitas, karena anggapan bahwa tidak ada yang lebih dapat dipercaya daripada fakta bahwa bebagai interpretasi memang memuaskan rangsangan-rangsangan rasio  (Grondin, 2017: 18).

Pemikiran Kant tentang metafisika merupakan sesuatu yang ada dalam diri dan fenomena yang tampak. Mengacu pada metafisika Aristoteles yang mendefinisikan metafisik sebagai ilmu yang mengkaji tentang ‘yang Ada’ sebagaimana apa adanya mampu mengklaim pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang ada dalam diri. Menurut Kant, sesuatu yang kita ketahui memang sudah ada dalam skema konsep pemahaman kita, pikiran tidak bersifat pasif dalam aktus mengetahui, tetapi juga aktif melekatkan hukum-hukum logika pada alam. Sistem-sistem yang dilekatkan pada alam dan hukum moral mendorong manusia untuk berbuat yang didasarkan pada impretatif kategori rasio, tidak hanya merupakan interpretasi-interpretasi berlainan yang berujung pada debat kusir dalam ranah filsafat praktis dan metafisikan alam itu sendiri (Grondin, 2017: 20). Berdasarkan argument Kant, rasio akan terjerembab ke dalam ilusi metefisis ketika dia mencoba keluar dari ranah pengalaman yang terbatas, maka dari itu rasio menjadi ragu dengan apa yang dihasilkannya.

Apa yang diungkapkan oleh Kant dianggap kontradiksi akut oleh rahib Jacobi, sebab apa yang dimaksud Kant tentang sesuatu-dalam-dirinya-sendiri ingin menyingkirkan segala konsep yang pada hakikatnya tidak dapat diketahui. Kontradiksi membuang pendapat yang memandang sesuatu yang ada dalam dirinya sendirisebagai sesuatu yang berada di luar dirinya dan kemudian mengembangkan sesuatu yang koheren tentang idealisme absolut. Di sisi lain, Jacobi mengikuti indikasi-indikasi yang ditemukan dalam pemikiran Kant yang mengaku harus membatasi pengetahuan untuk memberi jalan keimanan, hingga sampi pada kesimpulan yang lain ‘feidisme’. Jika pemahaman tidak bisa membawa kita pada realitas, satu-satunya hal yang bisa memberi kepentingan tentang sesuatu yang objek dan kokoh adalah keyakinan pada suatu otoritas yang lebih tinggi daripada otoritas rasio kita (Grondin, 2017: 22-23).

Feidisme Jacobi mempengaruhi bapak Hermeneutia kontemporer, yaitu Friederich Schleiermacdher dan ikut dalam menolak klaim-klaim pengetahuan rasional dan menggolongkan sentimen keagamaan sebagai saah satu ketergantungan total, suatu keyakinan terhadap realitas yang melebihi pemahaman kita terhadap yang terpecah-pecah. Schleiermacdher kemudian menggantungkan pemahaman pada hermeneutika dengan membedakan dua cara mengartikna seni interpretasi, yaitu pengertian yang longgar dan pengetian yang ketat. Pengertian yang longgar/santai merupakan pemahaman yang langsung diterima secara alamiah ketika seseorang membaca teks. Berdasarkan pengertian yang ketat, suatu teori pemahaman harus mengikuti maksim (hukum) bahwa kesalahpahaman yang justru muncul secara otomatis atau alamiah dan harus dicari dan didasarkan pada setiap langkah interpretasi (Grondin, 2017: 24-25).

Pandangan yang mendasari hermeneutika Schleiermacdher adalah pandangan yang disebut dengan universalisasi kesalahpahaman, karena dalam komunikasi biasa antar pribadi, kita seolah-olah memahmai ucapan orang lain, namun kita tidak sampai pada pemahaman atas segala sesuatu tentangnya jika tidak pernah mengalami apa yang mereka alami. Artinya, untuk sampai pada pemahaman orang lain, kita harus pernah mengalami suatu hal yang sama dengan mereka. Schleiermacdher menderivisikan pendapat dari premisnya tentang kesalahpahaman bahwa pemahaman manusia niscaya bersifat ‘dialektis’ atau ‘dialogis’ jika ingin menghindari konotasi spekulatif konsep Dialektika hege (Grondin, 2017: 27).

Pemahaman Schleiermacher dalam memahami dialektika sebagai platonik, yaitu seni berdiaog. Jika seluruh perspektif kita tentang dunia terbatas, maka kita hanya mengandalkan pandangan pengalaman, dan keberatan-keberatan orang lain berbeda-beda. Melalui dialog, kita dapat sampai pada pemahaman yang universalitas dengan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda-beda dan dapat memperkaya pemahaman kita yang terbatas. Dengan demikian, pemahaman yang ditekankan pada aspek dialogis menjadi aspek yang penting. Jejak pemahaman dialogis dapat ditemukan dalam hermeneutika kontemporer pada pemikiran Gadamer yang memahami pengalaman hermeneutik sebagai sesuatu yang dialogis, bahkan juga dalam proyek etika pembhasan/diskusi. Aspek yang kurang kontemporer dalam pemikiran Schleiermacher adalah pendaptnya tentang teknik memahami. Jika kita tidak bisa memastikan pemahaman sendiri, maka akan sangat berguna jika kita bisa bersandar pada Kunstlehre (seni memahmi) yang dapat memastikan validitas interpretasi-interpretasi kita  (Grondin, 2017: 28).

  • Dari Schleiermacher ke Heidegger dan Gadamer

Grondin mengidentifikasi ciri hermeneutika Schleiermacher yang terjebak di antara motif Cartesian dan motif yang lebih romantik atau nyaris eksistensialis. Risiko akibat kesalahpahaman total merupakan motif utama hermeneutika Schleiermacher yang mengarah pada insting-insting Cartesian yang mengarah pada solusi metodis atau sejenis Kunstlehre. Berbeda dengan Schleiermacher, Heidegger justru menganggap solusi ‘metodis’ ini adalah bagian dari zaman hermeneutika.

Metafisika menurut  Heidegger berasal dari suatu dorongan yang lebih mendasar, yaitu tendensi seseorang untuk mengamankan posisinya yang rentan dalam dunia dengan memahami totalitas ‘yang Ada’ berdasarkan kerangka pandangan onto-teologis (Grondin, 2017: 28). Bagi Heidegger, onto-teologis merupakan elemen-elemen umum yang membentuk metafisika yang terwadahi dalam istilah Yunani. Pemikiran metafisika berifat ontologis, karena mengarah pada pemikiran yang universal, komprehensif, dan menyeluruh terhadap “yang Ada”. Selanjutnya, metafisika yang bersifat teologis, sejauh ini melahirkan perspektif universal tentang ‘yang Ada’ dari suatu prinsip umum. ‘Yang Ada’  bisa dipahami dan diperoleh bukan dalam penegertian ketuhanan, melainkan ‘yang Ada’ bersifat materialistik atau suatau yang dapat diindera, maka saat itu dia masih berpikir secara ‘teologis’ atau dengan cara yang fonsalis, artinya secara metafisis. Metafisika bersifat logis karena diperoleh dari pemahaman universal dan berdasarkan prinsip ‘yang Ada’ melalui kacamata logika khusus, yaitu diskursus proporsional dan silogistis, dimana presikat dipahamai sebagai properti atau aksiden; permainan bahasa ‘jika-maka’ sebagai kausalitas ontologis, dll). Dengan mengimbuhkan logikanya sendiri kepada dunia, metafisika diam-diam merasa telah menemukan hakikat sesuatu berdasarkan sudut pandang onto-teo-logis (Grondin, 2017: 31).

Pemahaman dalam Hermeneutika memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yaitu: (1) Schleiermacher mengembangkan pemahaman hermeneutika bukan sekedar kajian teologi teks, namun diperluas menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Model hermeneutika Schleiermacher meliputi dua hal, yaitu pemahaman teks melalui aturan-aturan sintaksis pengarang, dan pemahaman teks melalui pengungkapan muatan emotional batiniah pengarang, sehingga pemaknann tidak jauh melenceng dari makna yang dikehendaki pengarang; (2) Wilhem Dilthey menjelaskan pemahaman bermula dari pengalaman, dimana pengalaman hidup manusia merupakan neksusu struktural yang mempertahankan neksus masa lalu sebagai sebuah kehadiran masa kini. Pemahaman dalam hermeneutika dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu memahami sudut pandang atau gagasan pelaku asli, memahami arti arti dari perilaku mereka secara lamgsung yang berhubungan dengan peristiwa sejarah, dan menilai peristiwa-peristiwa berdasarkan gagasan yang berlaku di waktu sejawan itu hidup; (3) Edmund Husserl menjelaskan pemahaman yang benar harus membebaskan diri dari prasngka. Penafsir harus memilik pengetahuan sejati, yaitu kehadiran data dalam setiap budi, bukan rekayasa untuk berteori. Untuk memperoleh pemahaman ini, harus melalui tiga proses, yaitu melakukan reduksi fenomenologis dengan menempatkan dunia dalam tanda kurung, melakukan reduksi eidetik yang dikerjakan dengan memusatkan perhatian dan pengamatan kita pada esensi sesuatu an dicoba untuk dipahami, dan melakukan rekonstruksi dengan menghubungkan hasil reduksi fenomenologis dengan hasil reduksi eidetik; (4) Pemahaman menurut Heidegger sebagai sesuatu yang muncul dan mendahului kognisi, untuk memahai teks kita harus menerapkan pembacaan atau penafsiran ulang, sehingga dapat memahami teks yang sama secara baru dan denga perolehan makna yang baru pula. Pemahaman teks yang dijelaskan Heidegger terletak pada kegiatan mendengarkan melalui bahasa manusia tentang ‘hal’ apa yang dikatakan dalam ungkapan bahasa, dan proses ini merupakan proses penghayatan, karena pada hakikatnya manusia berada dalam suatu gerakan yang disebut bahasa, dan hal inilah yang mendasari filsafat Hermeneutika Heidegger;(5) Pemahaman yang benar menurut Gadamer adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis, yaitu kebenaran dicapai melalui dialektika bahasa. Hal ini meliputi kebenaran sebagai tak tersembunyi, bahasa dan pemahaman, dan hubungan antara kebenaran dan metode.  Penafsiran menurut Gadamer tergantung dari situasi dimana penafsir itu ada melingkupi pengalamannya dalam tradisi masing-masing, dimana kebenaran yang tersingkap nantinya sangat ditentukan oleh proses dialektika tanya-jawab cakrawala-cakrawala tradisi itu; (6) Pendapat Jurgen Habermas tentang pemahaman didahului oleh kepentinan, dimana kepentingan ini melibatkan kepentingan sosial sebagai interpreter. Kita tidak dapat memahami suatu fakta jika tidak dapat memahami sepenuhnya suatu fakta, karena fakta tidak selalau ada untuk dapat diinterpretasi. Artinya, terdapat makna yang tidak dapat dijabarkan di luar pikiran kita; (7) Menurut Paul Ricoeur, memahami makna sutau teks diambil tidak hanya dari pandangan hidup pengarang, melainkan dari pengertian pandangan hidup pembacanya juga. Hermeneutika mencari makna tersembunyi yang objektif dari sutau teks, tanpa melibatkan maksud subjektif pengarang ataupun orang lain. interpretasi akan dianggap berhasil, jika dunia teks dan dunia interpreter terlah larut menjadi satu; (8) Jacques Derrida sebagai tokoh hermeneutika dekonstruksinonis berpendapat bahwa setiap upaya menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan bagi upaya membangun relasi sederhana antara petanda dan penanda. Hermeneutika yang ditawarkan Derrida menghendaki agar kita  lebih menekankan pada pencarian makna eksistensialis dan makna yang sekarang. Setiap upaya untuk menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan untuk membangun relasi sederhana antara penanda dan petanda, karena bahasa hanya merujuk pada dirinya sendiri, maka makna-makna adalah arbitrer dan tidak bisa dipastikan begitu saja.

Tingkatan dalam Hermeneutika

Oleh: Yusanta, D.A.

  1. Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 -1834),

Merupakan tokoh hermeneutika romantisisme, Schleiermacher yang memperluas pemahaman hermeneutika dari sekedar kajian teologi (teks bible) menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Menurut perspektif tokoh ini, dalam upaya memahami wacana ada unsur penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis, dan konteks kultural. Schleiermarcher menginginkan adanya makna autentik dari sebuah teks, karena dia beranggapan bahwa tidak ada teks yang dibuat tanpa alasan. Dan memahami teks tersebut hakikatnya sama dengan memahami makna autentik dan tujuan teks tersebut.

Model kerja hermeneutika Schleiermarcher meliputi dua hal:

  1. Pemahaman teks melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang, sehingga harus menggunakan pendekatan linguistik.
  2. Penangkapan muatan emotional dan batiniah pengarang secara intuitif dengan menempatkan diri penafsir ke dalam dunia batin pengarang teks. Langkah ini diperlukan untuk memandu langkah pertama agar penafsiran tidak melenceng jauh dari makna yang dikehendaki pengarang.
  • Wilhelm Dilthey (1833 -1911),

Merupakan tokoh hermeneutika metodis. Dithey berpendapat bahwa proses pemahaman bermula dari pengalaman, kemudian mengekspresikannya. Pengalaman hidup manusia merupakan sebuah neksus struktural yang mempertahankan masa lalu sebagai sebuah kehadiran masa kini. Oleh karena itu, pemaknaan bersifat fleksibel, tidak ada aturan di dalamnya. Hal itu disebabkan karena makna itu sendiri tak pernah berhenti pada suatu masa saja, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Bahasa tidak pernah lepas dari pasang surutnya sejarah. Kata-kata atau pernyataan tunggal bisa mempunyai makna bermacam-macam, tergantung pada konteks sejarah dimana kita atau pernyataan itu diucapkan. Itu pula sebabnya mengapa makna kata atau bahkan ungkapan tidak pernah tunggal. Makna kata muncul, tenggelam, dan berkembang dalam rentetan sejarah masyarakat penggunanya.

Hermeneutika menurut Dilthey dapat dipahami dengan tiga proses berikut :

  1. Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli.
  2. Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah.
  3. Menilai perisiwa-peristiwa tersebut brdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup.
  • Edmund Husserl (1889 -1938),

Merupakan tokoh hermeneutika fenomenologis, menyebutkan bahwa proses pemahaman yang benar harus mampu membebaskan diri dari prasangka, dengan membiarkan teks berbicara sendiri. Oleh sebab itu, menafsirkan sebuah teks berarti secara metodologis mengisolasikan teks dari semua hal yang tidak ada hubungannya, termasuk bias-bias subjek penafsir dan membiarkannya mengomunikasikan maknanya sendiri pada subjek. Makna tidak bisa direduksi menjadi sekadar maksud-maksud subjek. Subjek hanya terbentuk bersama makna.

Husserl mengatakan bahwa penafsiran harus kembali pada data, bukan pemikiran, yakni pada halnya sendiri yang harus menampakkan dirinya. Interpreter harus melepaskan semua pengandaian dan kepercayaan pribadinya serta dengan simpati melihat objek yang mengarahkan diri kepadanya. Pengetahuan sejati adalah kehadiran data dalam kesadaran budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori. Dengan begitu, menurut perspektif ini, proses pemahaman yang benar harus membebaskan diri dari prasangka, yakni dengan membiarkan teks ‘berbicara sendiri’, teks harus merefleksikan mentalnya sendiri, oleh karena itu penafsir harus netral dan menjauhkan diri dari unsur-unsur subjektifnya atas objek.

Untuk itu, dalam penafsiran ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu :

  1. Melakukan reduksi fenomenologis yang dikerjakan dengan menempatkan dunia dalam tanda kurung.
  2. Melakukan reduksi eidetik yang dikerjakan dengan memusatkan perhatian dan pengamatan kita pada esensi sesuatu yang dicoba untuk dipahami
  3. Melakukan rekontruksi dengan menghubungkan hasil reduksi fenomenologis dengan hasil reduksi eidetik.
  • Martin Heidegger (1889 -1976),

Merupakan tokoh hermeneutika dialektis. Heidegger merupakan murid dari Husserl, meskipun begitu Heidegger menentang keras gagasan hermeneutika Husserl mengenai netralitas sang penafsir. Sebab menurut Heidegger, cara kerja penafsiran hanya bisa dilakukan dengan didahului oleh prasangka-prasangka mengenai objek. Prasangka historis atas objek merupakan sumber-sumber pemahaman, karena prasangka merupakan bagian dari eksistensi yang harus dipahami.

Heidegger juga menjelaskan tentang pemahaman sebagai sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi. Untuk memahami teks, kita tidak mungkin bisa mencapainya dengan melacak makna tertentu yang ditempatkan di sana oleh pengarang. Dengan demikian, harus dikaitkan antara keberadaan kita dengan apa yang bisa ditunjukkan oleh teks. Implikasinya, tidak ada lagi makna yang tunggal dan tetap; sebaliknya, yang ada adalah keragaman makna dan dinamika eksistensial. Oleh sebab itu, pembacaan atau penafsiran selalu merupakan pembacaan ulang atau penafsiran ulang, yang dengan demikian akan memahami lagi teks yang sama secara baru dengan makna baru pula.

Terkait dengan pemahaman teks, Heidegger menyatakan bahwa pemahaman teks terletak pada kegiatan mendengarkan lewat bahasa manusia perihal apa yang dikatakan dalam ungkapan bahasa tersebut. Kegiatan tersebut untuk menghayati kegiatan kebahasaan. Itulah sebabnya dalam pandangan Heidegger bahasa adalah suatu proses, suatu dinamika atau suatu gerakan. Manusia hakikatnya berada dalam suatu gerakan ke arah bahasa. Inilah yang melandasi pemikiran filsafat hermeneutika Heidegger.

  • Hans-Georg Gadamer (1900 -2002)

Merupakan tokoh hermeneutika dialogis, baginya pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Artinya, kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan demikian, bahasa menjadi medium sangat penting bagi terjadinya dialog.

Gadamer berpendapat bahwa bahasa merupakan realitas yang tak terpisahkan dari pengalaman hidup, pemahaman, dan pikiran manusia. Gadamer dengan tegas menempatkan bahasa sebagai pusat pemahaman, sebagaimana pernyatan berikut “Pemahaman atau mengerti harus dipandang sebagai sikap yang paling fundamntal dalam eksistensi manusia, atau lebih tepat lagi kalau dikatakan bahwa ‘mengerti’ itu tidak lain daripada cara berada manusia sendiri.”

Secara kategoris, kerangka hermeneutika Gadamer berkaitan dengan pokok-pokok khusus, yaitu :

  • Kebenaran sebagai yang tak tersembunyi,

Bagi Gadamer kebenaran dipahami sebagai ketersingkapan dan ketaktersembunyian. Penyingkapan kebenaran tersebut harus mengacu pada tradisi, bukan pada metode dan teori.

  • Bahasa dan pemahaman,

Bahasa harus dipahami sebagai yang merujuk pada pertumbuhan mereka secara historis, dengan kesejarahan makna-maknanya, tata bahasa dan sintaksisnya, sehingga dengan demikian bahasa muncul sebagai bentuk-bentuk variatif logika pengalaman, hakikat, termasuk pengalaman historis/ tradisi. Gadamer mendefinisikan bahasa bukan sebagai sesuatu yang tertuju pada manusia melainkan pada situasi.

  • Hubungan antara kebenaran dan metode.

Gadamer berpendapat bahwa pencapaian kebenaran sebagai produksi operasi hermeneutis terhadap suatu teks harus melampaui metode-metode. Metode tidak secara mutlak merupakan wahana pemahaman yang menghasilkan kebenaran. Kebenaran justru akan dicapai jika batas-batas metodologis dilampaui. Bahasa sebagai endapan tradisi sekaligus medium untuk memahami sehingga ada yang tak tersembunyi itu dipahami lewat dan dalam bahasa pula. Akhirnya kebenaran itu tercapai melalui Ada-nya sendiri sesuai dengan proses dialektik dan linguistik yang melampaui batas-batas metodologis yang diaplikasikan oleh penafsir teks.

Hermeneutika Gadamer dengan demikian bergerak secara sirkular, masa lalu dan masa kini, dalam suatu pertemuan ontologis sehingga Ada mewahyukan diri sendiri. Itulah mengapa, Hermeneutika Gadamer tidak pernah melegitimasi suatu penafsiran sebagai yang benar dalam dirinya sendiri. Sebab setiap penafsiran tergantung dari situasi dimana penafsiran itu timbul atau pengalaman dan tradisinya masing-masing. Lahirnya suatu pemahaman yang baru atas kebenaran sebagai yang tersingkap itu sangat ditentukan oleh proses dialektika tanya-jawab cakrawala-cakrawala tradisi itu.

  • Jurgen Habermas (1929)

Merupakan tokoh hermeneutika kritis, menyebutkan bahwa pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horison pemahaman adalah kepentingan sosial yang melibatkan kepentingan kekuasaan interpreter. Hermeneutika Habermas lebih mengedepankan refleksi kritis  penafsir dan menolak kehadiran prasangka dan tradisi. Hanya dengan cara demikian hermeneutika mampu mengemban tugas untuk mengembangkan masyarakat komunikatif yang universal. Secara metodologis, hermeneutika kritis Habermas dibangun di atas klaim bahwa setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias-bias dan unsur-unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, termasuk bias strata kelas, suku, dan gender. Dengan menggunakan metode ini, konsekuensinya kita harus curiga dan waspada –atau dengan kata lain kritis- terhadap bentuk tafsir atau pengetahuan atau jargon-jargon yang dipakai dalam sains dan agama.

Habermas mengatakan bahwa kita tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya makna suatu fakta, sebab selalu ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. Selain itu, selalu ada makna yang bersifat lebih yang tidak dapat dijangkau oleh interpretasi, yaitu terdapat dalam hal-hal yang bersifat ‘tidak teranalisiskan’, ‘tidak dapat dijabarkan’ bahkan di luar pikiran kita.

Sejalan dengan Gadamer, Habermas juga menempatkan bahasa sebagai unsur fundamental dalam hermeneutika. Sebab, analisis suatu fakta dilakukan melalui hubungan simbol-simbol dan simbol-simbol tersebut sebagai simbol dari fakta.

  • Paul Ricoeur (1913)

Ricoeur berangkat dari perbedaan fundamental antara paradigma interpretasi teks tertulis dan discourse dan percakapan. Makna tidak hanya diambil menurut pandangan hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup dari pembacanya. Menurut Ricoeur, teks berbeda dengan percakapan, karena ia terlepas dari kondisi asal yang menghasilkannya; niat penulisnya sudah kabur, audiennya lebih umum, dan referensinya tidak dapat lagi dideteksi. Konsep yang utama dalam pandangan Ricoeur adalah bahwa begitu makna objektif diekspresikan dari niat subjektif sang pengarang, maka berbagai interpretasi yang dapat diterima menjadi mungkin. Makna tidak diambil hanya menurut pandangan hidup pengarang, tapi juga menurut pengertian pandangan hidup pembacanya.

Tugas Hermeneutika tidak mencari makna tersembunyi di balik teks, melainkan mengarahkan perhatiannya kepada makna objektif dari teks itu sendiri, terlepas dari maksud subjektif pengarang ataupun oranglain. Karena itu, menginterpretasikan sebuah teks bukannya mengadakan suatu relasi intersubjektif antara subjektivitas pengarang dan subjektivitas pembaca, melainkan hubungan antara dua diskursus teks dan diskursus interpretasi. Interprtasi dianggap telah berhasil mencapai tujuannya jika dunia teks dan dunia interpreter telah berbaur menjadi satu.

  • Jacques Derrida (1930)

Merupakan tokoh hermenutika dekonstruksionis, mengingatkan bahwa setiap upaya menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan bagi upaya membangun relasi sederhana antara petanda dan penanda. Lewat gagasannya, Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa, demikian juga sistem simbol yang lain, merupakan sesuatu yang stabil. Karena itu, makna tulisan (teks), menurut Derrida makna teks selalu mengalami perubahan tergantung konteks dan pembacanya. Hermeneutika dekontruksionis menghendaki agar kita lebih menekankan pada pencarian makna eksistensial, makna yang disini dan sekarang. Dekontruksi derrida mengingatkan bahwa setiap upaya untuk menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan bagi upaya membangun relasi sederhana antara penanda dan petanda. Karena bahasa hanya merujuk pada dirinya sendiri, maka makna-makna adalah arbitrer dan tidak bisa dipastikan begitu saja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hermeneutika sebagai aliran filsafat telah mengikuti pandangan hidup tokoh-tokohnya. Dimulai dari Scleiermacher yang berlatar belakang pendeta Protestan Liberal dengan hermenutika romantisismenya telah mengubah makna hermeneutika dari sekadar kajian teks keagaaman (Bible) menjadi kajian pemikiran filsafat. Wilhelm Dilthey yang ahli metodologi ilmu-ilmu sosial dan sejarah mengubah makna hermeneutika menjadi metode kajian historis. Edmund Husserl juga menggeser hakikat kebenaran dengan menganggap bahwa pengetahuan dunia objektif itu bersifat tidak pasti, karena pengetahuan itu sesungguhnya diperoleh dari aparatus sensor kita yang tak sempurna. Martin Heidegger dengan latar belakang filsafat fenomenologinya membawa hermenutika kepada kajian ontologis. Hans-Georg Gadamer, sebagai filosof yang besar di lingkungan filsafat fenomenologi Jerman, juga menekankan kajian ontologis Heidegger, tetapi dalam konteks tradisi pemikiran filsafat Barat yang menekankan pentingnya dialektika sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran, sehingga hermeneutikanya juga disebut hermeneutika dialogis. Namun, Habermas dengan teori kritisnya menggeser makna hermenutika kepada pemahaman yang diwarnai kepentingan, khususnya kekuasaan. Itu sebabnya ia mengkritik Gadamer yang dianggap kurang menekankan kesadaran sosial yang kritis. Sedangkan paul ricoeur dengan filsafat fenomenologin dan eksistensialisnya mensyaratkan adanya aspek pandangan hidup interpreter sebagai faktor utama dalam pemahaman hermeneutiknya. Selain itu ia berupaya mencari integrasi dialektis dari dikotomi Dilthey, yaitu penjelasan dan pemahaman. Derrida dengan gagasan dekontruksionisnya menyatakan peran penting sistem lambang atau simbol (bahasa) untuk menyingkap makna yang selalu arbriter.

Tingkatan Hermeneutika

Oleh: Putri, D.A.

Hermeneutika secara tradisional dipahami sebagai teori interpretasi (hermeneuein) (Grondin, 2017:17). Dengan penekanan pada interpretasi berarti sangat anti-fondasionalis dan akan terlihat sebagai anti atau paasca metafisis, tetapi dengan adanya mengakui adanya persfektif universal , jelas penekanan ini menjurus pada suatu klaim universal yang menyerupai metafisika tradisional (baik mereka yang mendukung suatu konsep hermeutika itu mengetahui ataukah tidak).

  1. Immanuel Kant

Sebagian besar pangkal transisi ini bisa diusut kedalam kemunculan sebuah karya penting Kant, Critique Of Pure Reason (1781). Kant sama sekali tidak menyangka bahwa sedtruksinya terhadap metafisika dogmatis akhirnya akan membuka jalan bagi kedatangan abad hermeneutika. Kant berpandangan bahwa usia metafisika yang dua milenium itu tidak menghasilakan pengetahuan yang sesungguhnya, melainkan hanya ilusi, pada dasarnya adalah pandangan yang benar-benar bersifat hermeneutis. Rasio metafisis tidak hanya menghasilkan kebenaran yang kasar, tetapi juga berbagai fiksi, interpretasi, dan bahkan sophistry (rasio debat kusir dengan tujuan menipu). Apa yang dikira metafisika sebagai kebenaran yang rasional tidak lebih dari delusi yang hanya bisa disadari setelah dilakukan dekonstruksi yang sangat teliti terhadap kapasitas kognisi di luar ranah pengalaman yang terbatas.

              Kritisme kant terhadap semua pengetahuan yang mengklaim mampu membicarakan sesuatu dalam dirinya sendiri melahirkan dua keturunan yang nantinya akan berlawanan. Yang pertama membukakan jalan bagi perspektivisme umum, atau bagi beberapa jenis hermeneutika, sedangkan yang kedua menghasilkan suatu ledakan pemikiran metafisika baru dalam bentuk idealisme transendental, Keturunan kedua ini sangat terkenal.

  • Friedrich Schleiermacher (hermeneutika romantis)

              Selain Kant yang mempengaruhi pemikiran bapak hermeneutika kontemporer Friedrich Schleiermacher dalam Discourses on Religion-nya (1799) yaitu Fideisme Jacobi dalam menolak klaim-klaim pengetahuan rasional dan menggolongkan sentimen keagamaan sebagai salah satu ketergantungan total, suatu keyakinan terhadap realitas yang melebihi pemahaman kita yang terpecah-pecah. Tawaran romantik tentang sentimen keagamaan ini adalah imbas tak langsung dari pelecehan Kant terhadap rasio dalam Critique-nya yang pertama.

              Dalam manuskripnya-manuskripnya tentang hermeneutika, Schleiermacher membedakan dua cara mengartikan seni interpretasi : pengertian yang longgar dan pengertian yang ketat. Dalam pengertiannya yang longgar atau “santai”, pemahaman merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah ketka seseorang membaca sebuah teks. Seseorang baru membutuhkan doktrin interpretasi atau hermeneutika untuk menghadapi bagian-bagian yang ambigu, yang tentu saja jumlahnya sangat terbatas, manakala pemahaman tidak bisa muncul dengan semerta-merta.

               Dengan membedakan dua jenis hermeneutika, Schleiermacher jelas-jelas ingin memasang suatu sikap hermeutis yang sebelumnya masih dikerangkeng, yakni pendapat bahwa hermeneutika hanyalah ilmu “bantu” yang diperlukan ketika seseorang tersandung pada bagian teks-teks yang sulit, suatu ilmu yang tidak diperlukan selama pemahaman relatif berjalan baik.

              Sumbangan Schleiermacher yang paling penting dalam hermeneutika adalah konsepnya bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. Ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. Menurut Schleiermacher, dalam setiap kalimat yang diucapkan terdapat dua momen pembahasan yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang dipikirkan oleh pembicara. Bisa saja terjadi apa yang dikatakan oleh seorang penutur bahasa tidak sama dengan apa yang sedang dia pikirkan. Selain itu setiap pembicara mempunyai tempat dan waktu, dan bahasa dimodifikasikan menurut kedua hal tersebut. Menurutnya pemahaman hanya terdapat didalam kedua momen tersebut yang saling berpautan. Karena itu baik pembicara maupun bahasanya harus dipahami sebagaimana seharusnya.

              Implikasinya, teks harus dilihat baik dari aspek luar maupun dalam untuk memperoleh makna utuh. Makna bukan sekadar syarat yang dibawa oleh bahasa, sebab bahasa dapat mengungkap sebuah realitas dengan sangat jelas, tetapi pada saat yang sama dapat menyembunyikan dengan rapat-rapat, tergantung pada pemakainya.

Pada dataran praktis memahami teks, Schleiermacher menawarkan sebuah metode rekonstruksi histors, objektif, da subjektif terhadapa sebuah pernyataan. Schleiermacher mengatakan tugas utama hermeneutika adalah memahami teks sebaik atau bahkan lebih baik dari pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik dari pada memahami diri sendiri. Model kerja Schleiermacher ada dua. Pertama memahami teks melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang. Sehingga harus menggunakan pendekatan linguistik. Kedua penangkapan muatan emosional dab batiniah pengarang secara intuitif dengan menempatkan diri penafsir kedalam dunia batin pengarang teks.

  • Wilhelm Dilthey (hermeneutika metodis)

              Dilthey merupakan salah satu penggemar Scheiermacher karena kemampuannya dalam menggabungkan teologi dan kesastraan dengan karya kefilsafatan. Dilthey memiliki metode riset historisnya yang kemudian menjadi sumbangannya sangat berharga dalam perkembangan hermeneutika. Karyanya lebih banyak tercurah pada pemahaman historis.

               sasaran Dilthey adalah memahami orang yang menyejarah.

Individu merupakan produk suatu sistem sosial atau disebut “eksternal”. Sistem eksternal menjadi basis pemahaman historis. Menurut Dilthey hermeneutika pada dasarnya bersifat menyejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah “berhenti pada suatu masa saja”tetapi selalu berubah mengikuti modifikasi sejarah. Kata-kata atau pernyataan tunggal bisa mempunyai makna bermacam-macam tergantung pada konteks sejauh dimana kata atau pernyataan diucapkan .

  • Martin Heidegger (hermeneutika dialektis)

              Pemikiran Heidegger dipengaruhi oleh fenomenologi Husserl. Pemikiran filsafat Heidegge rmeliputi dua periode, periode I meliputi hakikat tentang “ada” dan “waktu”. Heidegger satu-satunya orang yang menanyakan tentang “ada”, sebab pada hakikatnya manusia “ada” tetapi tidak begitu sajamelainkan senantiasa secara erat berkaitan dengan “adanya” sendiri. Periode ke II tentng pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger menjelaskan pengertian “kebre: yang berarti “pembalikan” menurutnya ketidaktersembunyian  “ada” merupakan kejadian asli. Menurutnya berpikir pada hakikatnya adalah terikat pada arti.

              Oleh karena itu manusia bukanlah penguasa atas apa yang “ada”, melainkan sebagai penjaga padanya. Manusia tidak bisa memahami subjek tanpa arti yang dididami subjek. Bahasa pada hakikatnya adalah “bahasa hakikat” artinya berfikir adalah suatu jawaban, tanggapan, atau respons dan bukan manipulasi ide. Dalam realitas bahasa lebih menentuikan dari pada fakta atau perbuatan. Dengan kata lain bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Terkait dengan pemahaman teks Heidegger menyatakan bahwa pemahaman teks terletak pada kegiatan mendengarkan lewat bahasa manusia prihal apa yang dikatakan dalam ungkapan bahasa tersebut. Dalam pandangan Heidegger bahasa adalah suatu proses, suatu dinamika, atau suatu gerakan. Manusia hakikatnya berada dalam suatu gerakan ke arah bahasa. Inilah yang menjadi landasan pemikiran filsafat hermeneutika Heidegger.

  • Hans-Georg Gadamer (hermeneutika dialogis)

              Buku yang dibuat oleh Gadamer dengan judul “kebenaran dan metode” pada tahun 1960 kemudian menjadi rujukan kajian-kajian filsafat hermeneutika kontemporer. Meskipun menjadi rujukan Gadamer menolah hermeneutika sebagai sebuah metode. Yang ditekankan adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis. Bagi Gadamer kebenaran menerangi metode-metode individual, sementara metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Gadamer ingin mencabai kebenaran bukan melalui metode, melainkan dialektikadalam proses dialektika kesempatan mengajukan pertanyaan lebih banyak dari pada proses metodis. Pada dasarnya, metode adalah struktur yang dapat membekukan dan memanipulasi unsur-unsur yang memudahkan prosedur tanya jawab, sedangakn proses dialektika tidaklah demikian.

              Konsep Gadamer yang menonjol dalam Hermeneutika adalah ketika ia (meminjam pendapat Heidegger) menekankan apa yang dimaksud “mengerti”. Baginya mengerti merupakan proses melingka untuk mencapai pengertian, seseorang harus bertolakdari pengertiannya misalnya untuk mengerti suatu teks, seseorang harus terlebih dahulu memiliki prapengertiantentang teks tersebut. Gadamer menyebutnta sebagai lingkaran hermeneutika (hermeneun circle) yang artinya, bagian teks bisa dimengerti lewat keseluruhan dan keseluruhan teks hanya bisa dipahami lewat bagian-bagiannya. Menurut Gadamer hermeneutika adalahontologi dan fenomenolog pemahaman.

  • Jurgen Habermas (hermeneutika kritis)

              Hampir seluruh karyanya memiliki konsep tentang “penjelasan” dan “pemahaman”, disinilah keterkaitan gagasan Habermas dengan hermeneutika. Yang menurutnya bertujuan untuk memahami peroses pemahaman. Penjelasan menurut penerapan proposisi-proposisis teoretisterhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan dimana pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu.

              Terkait dengan interpretasi makna Habermes mengatakan tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya makna suatu fakta. Sebab selalu ada fakta yang tidak bisa diiterpretasikan. Habermes selalu ada makna yang tidak dapat diinterpretasikan, selalu ada makna yang  bersifat lebih. Dalam hal-hal ini bersifat “tidak teranalisiskan”, “tidak dapat dijabarkan” bahkan diluar fikiran kita. Sejalan dengan Gadamer, Habermas juga menempatkan bahasa sebagai unsur fundamental dalam hermeneutika.

  • Paul Ricoeur

              Berdaarkan pemikirannya Ricoeur mengembangkan hermeneutika pada teks. Menurut Ricoeur sebuah teks adalah otonom atau berdiri sendiri dan tidak bergantung pada maksud pengarang. Otonomi teks terdapat tiga macam yakni intensi atau maksud pengarang, situasi kultural dan kondisi sosisal pengadaan teks, dan untuk siapa teks tersebut dimaksudkan. Menurutnya tugas hermeneutika bukan mencari makna tersembunyi dibalik teks melainkan mengarahkan perhatiannya kepada makna objektif dari teks itu sendiri, terlepas dari maksud subjektif pengarang ataupun orang lain. Menginterpretasi sebuah teks bukan hanya sekadar mengadakan relasi intersubjektif antara subjektivitas pengarang dan subjektivitas pembaca, melainkan hubungan antara dua diskursus teks dan diskursus interpretasi. Interpretasi dianggap berhasil apabila mencapai tujuan jika “dunia teks” dan dunia “interpreter” telah berbaur menjadi satu.

  • Jacques Derrida (hermeneutika dekonstruksionis)

              Pemikiran Derrida banyak dipengaruhi oleh dua aliran filsafat yaitu fenomenologi dan strukturalisme. Derrida menaruh perhatian yang besar pada filsafat bahaa khususunya dalam kaitan hermeneutika. Dalam bahasa Derrida membedakan antara “tanda” dan “simbol” yang kemudian menjadi problem utama dalam filsafat bahasa, dari sini Derrida mengemukakan pemikiran cemerlangnya menenai bahaa tulisan.

              Bahasa menurut kodratnya adalah “tulis”, sebab menjadi asal mula arti adalah gagasan yang didasarkan atas jejak, bukan sebaliknya. Tulisan merupakan barang asing yang masuk kedalam sistem bahasa. Sehingga tulisan merupakan asal dan sebab dari bahasa yang diucapkan. Menurut Derrida tulisan adalah fait accompli sesuatu yang sudah selesai saat orang berbicara.

              Terkait teks Derrida berpendapat bahwa objek timbul dalam jaringan tanda, dan jaringan atau rajutan tanda disebut “teks”. Menurut Derrida tidak ada sesuatu diluar teks sebab segala sesuatu yang ada selalu ditandai dengan tekrtualitas. Jika fenomenologi mengenalkan gagasan “intersubjektivitas” maka Derrida mengenalkan istilah “intertekstualitas” dalam menafsikan makna. Tidak ada makna yang melebihi teks dan pemikiran hadir diluar teks, dengan demikian makna senantiasa tertenun dalam teks.

KONSEP DESA WISATA : SUMBER PENGHASILAN MASYARAKAT

Bebicara tentang wisata tentunya membawa pengetahuan kita pada kegiatan bepergian,  bersenang-senang, bertamsya dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan batiniah sesorang, karena pada dasarnya kegiatan wisata merupakan kegiatan yang dapat menyenangkan hati. Dengan demikian, kegiatan berwisata tidak terbatas pada tempat yang secara umum diketahui, seperti wisata alam dengan mengunjungi pantai, pegunungan, dan taman nasional, melainkan mencakup wisata sosial-budaya. Pada dewasa ini, jenis wisata sosial-budaya merupakan suatu tujuan wisata yang menarik dan berkembang secara umum di Indonesia, diamana yang termasuk wisata sosial-budaya menurut Widyastuti, dkk (2017) adalah monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan-bangunan keagamaan, serta tempat-tempat bersejarah lainnya.

Dalam wisata sosial-budaya tentunyan memiliki faktor penting yang mendukung keberhasilan suatu objek wisata, yaitu pengelolaan suatu daerah yang menjadi tujuan wisata dapat dikembangkan dengan baik. Maka dari itu, menjadi penting untuk merancang suatu konsep pembangunan pariwisata yang pada gilirannya akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat lokal, karena tentunya menyangkut kelangsungan hidup di tempat tujuan wisata (Wahyuni, 2018: 84). Dengan demikian, disinilah letak manfaat dari pariwisata itu sendiri karena dapat memperluas lapangan kerja, mulai dari penyediaan akomodasi, tempat makan, pengembangan sentra industri yang dapat meningkatkan taraf hidup, dan tentunya menimbulkan rasa bangga bagi penduduk untuk tetap tinggal di desanya (Herawati dalam Sahawi, 2015: 25).

  1. Konsep Desa Wisata

Desa wisata merupakan kawasan pedesaan yang menawarkan berbagai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya desa, serta memiliki potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen pariwisata (Hadiwijoyo, 2012). Wisata pedesaan pada sekarang ini dijadikan tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.  Dengan demikian, maka muncullah konsep desa wisata yang berkaitan dengan kearifan lokal (adat-istiadat, budaya, potensi, yang dikelola sebagai daya tarik wisata sesuai dengan kemampuan yang ditujukan untuk kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat.

Desa wisata menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian perdesaan baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makanan-minuman dan kebutuhan wisata lainnya (Hermawan, 2016 :107; Nur, dkk., 2018: 4;  Wahyuni, 2018: 88).

Gumelar (2010 dalam Zakaria., & Suprihardjo, 2014) menjelaskan komponen yang ada pada desa wisata, yaitu: (1) keunikan, keaslian, sifat, khas; (2) lokasi yang berdekatan dengan alam yang luas biasa; (3) memiliki peluang untuk berkembang; (4) berkaitan dengan kelompok yang secara hakiki dapat menarik minat pengunjung.

 Sementara itu, Nuryanti (Wiendu, 1993 dalam Chusmeru dan Noegroho, 2010: 17; Wahyuni, 2018: 88) menjelaskan dua komponen utama dalam desa wisata, yaitu: akomodasi dan atraksi.

Akomodasi, merupakan sebagian dari tempat tinggal penduduk setempat dan atau/unitunit yang berkembang sesuai dengan tempat tinggal penduduk, dan atraksi, yakni seluruh kehidupan sehari-hari penduduk setempat beserta latar fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipan aktif, seperti kursus tari, bahasa dan lain-lain yang lebih spesifik (Hadiwijoyo, 2012).

Menurut Dinas Pariwisata DIY (2014: 26-29) kriteria dan faktor-faktor yang mendukung suatu desa untuk dijadikan tujuan wisata adalah:

  1. Memiliki potensi produk atau daya tarik unik dan khas yang mampu dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Potensi-potensi tersebut dapat berupa lingkungan alam maupun kehidupan sosial budaya masyarakat.
  2. Memiliki dukungan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) lokal yang cukup dan memadai untuk mendukung pengelolaan desa wisata.
  3. Faktor peluang akses terhadap akses pasar. Faktor ini memegang peran kunci, karena suatu desa yang telah memiliki kesiapan untuk dikembangkan sebagai desa wisata tidak ada artinya apabila tidak memiliki akses untuk berinteraksi dengan pasar atau wisatawan.
  4. Potensi SDM lokal yang mendukung peluang akses terhadap pasar wisatawan.
  5. Memiliki area untuk pengembangan fasilitas pendukung desa wisata, seperti: home stay, area pelayanan umum, area kesenian dan sebagainya.

Di samping itu, desa wisata yang berdasarkan pada karakteristik sumber daya dan keunikan yang dimilikinya, dikelompokkan menjadi empat kategori berikut.

  1. Desa wisata berbasis keunikan sumber daya budaya lokal sebagai daya tarik wisata utama.
  2. Desa wisata berbasis keunikan sumber daya alam sebagai daya tarik utama seperti pegunungan, perkebunan dan pertanian, pesisir.
  3. Desa wisata berbasis perpaduan keunikan sumber daya budaya dan alam sebagai daya tarik utama.
  4. Desa wisata berbasis keunikan aktifitas ekonomi kreatif seperti industri kerajinan sebagai daya tarik wisata utama (Dinas Pariwisata DIY, 2014: 26-29).

Berdasarkan tingkat perkembangannya, desa wisata dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Desa wisata embrio adalah desa yang mempunyai potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi desa wisata dan sudah mulai ada gerakan masyarakat untuk mengelolanya menjadi desa wisata.
  2. Desa wisata berkembang, yakni desa wisata embrio yang sudah dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa secara swadaya, sudah mulai melaksanakan promosi dan sudah ada wisatawan yang mulai tertarik untuk berkunjung.
  3. Desa wisata maju merupakan desa wisata yang sudah berkembang dengan adanya kunjungan wisatawan secara kontinu dan dikelola secara profesional dengan terbentuknya forum pengelola, seperti koperasi atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Desa wisata kategori ini telah mampu melakukan promosi dan pemasaran dengan baik (Victoria br. Simanungkalit, dkk. 2017: 20-21).
  4. Konsep Pengembangan Desa Wisata

Menurut I. Pitana (2009), pembangunan dan pengembangan pariwisata secara langsung akan menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, bisa dampak positif maupun negatif. Bagi masyarakat pengembangan pariwisata memiliki potensi manfaat yang sangat besar bagi ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, namun terkadang sering terjadi pengembangan pariwisata yang salah justru membawa banyak kerugian bagi masyarakat lokal itu sendiri.

Adanya berbagai manfaat dan tantangan memberikan gambaran bahwa pengembangan pariwisata bagaikan mengelola api, dimana pengelola dapat memanfaatkanya untuk kemaslahatan masyarakat namun di satu sisi dapat menimbulkan kerugian jika pengelolaan yang dilakukan tidak efektif (Hermawan, 2016: 107).

Pada konsep pengembangan wisata terdapat suatu alternatif yang disebut dengan Community Based Tourism (CBT) oleh Hausler (2005) sebagai bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pengembangan pariwisata. Fokus utama CBT menurut Pookaiyaudom (1999 dalam Pookaiyaudom, 2013: 2) adalah masyarakat lokal, dengan mendorong keterlibatan, partisipasi, dan manfaat bagi masyarakat dari kegiatan pariwisata, serta mendorong masyarakat menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan pengelolaan dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif, dan manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, dalam CBT terkandung konsep pemberdayaan masyarakat (Wahyuni, 2018: 84).

Ciri-ciri khusus dari Community Based Tourism menurut Hudson (Timothy, 1999:373; A’inun, Krisnani, & Darwis, 2018: 344) adalah berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dan adanya upaya perencanaan pendampingan yang membela masyarakat lokal serta lain kelompok memiliki ketertarikan/minat, yang memberi kontrol lebih besar dalam proses sosial untuk mewujudkan kesejahteraan. Sedangkan Murphy (1985:153) menekankan strategi yang terfokus pada identifikasi tujuan masyarakat tuan rumah dan keinginan serta kemampuan mereka menyerap manfaat pariwisata. Menurut Murphy setiap masyarakat harus didorong untuk mengidentifikasi tujuannya sendiri dan mengarahkan pariwisata untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat lokal. Untuk itu dibutuhkan perencanaan sedemikian rupa sehingga aspek sosial dan lingkungan masuk dalam perencanaan dan industri pariwisata memperhatikan wisatawan dan juga masyarakat setempat.

Wujud dari konsep community based tourism adalah dikembangkannya desa-desa wisat, dimana dalam desa wisata, masyarakat desa yang berada di wilayah pariwisata mengembangkan potensinya baik potensi sumber daya alam, budaya, dan juga potensi sumber daya manusianya (masyarakat setempat). Keberadaan desa wisata di Indonesia saat ini sudah semakin berkembang pesat. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, jumlah kunjungan ke desa wisata bertambah lima kali lipat. Mengacu data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, saat ini di Indonesia terdapat 987 desa wisata. Jumlahnya semakin meningkat sejak pertama diselenggarakannya desa wisata pada tahun 2009.

Desa wisata sebagai bentuk penerapan CBT menjadi pilihan wisata di Indonesia. Kearifan lokal dan tradisi budaya masyarakat menjadi penggerak utama kegiatan desa wisata. Selain itu, komunitas lokal yang tumbuh dan hidup berdampingan dengan suatu objek wisata menjadi bagian dari sistem ekologi yang saling terkait. Dengan demikian, keberhasilan pengembangan desa wisata tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat lokal (Wearing, 2002; Wahyuni, 2018: 84).

Di samping itu, Andriyani (2017: 2) juga menjelaskan tiga faktor yang yang mendukung perkembangan pariwisata pedesaan, yaitu: (1) potensi alam dan budaya pedesaan relatif lebih otentik dari pada wilayah perkotaan, dimana masyarakat desa masih menjalankan tradisi dan ritual-ritual budaya dan topografi yang cukup serasi; (2) lingkungan fisik pedesaan relatif masih asli atau belum banyak tercemar oleh beragam jenis polusi, dibandingkan dengan kawasan perkotaan; (3) dalam tingkat tertentu daerah pedesaan menghadapi perkembangan ekonomi yang relatif lambat, sehingga pemanfaatan potensi ekonomi, sosial dan budaya secara optimal merupakan alasan rasional pengembangan pariwisata pedesaan. Maka dari itu, konsep desa wisata menjadi sangat penting dikelola dan dikembangkan karena menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat.

  • Dampak Ekonomi Pariwisata

Pengembangan desa wisata di suatu daerah tentunya akan berimplikasi kepada masyarakat lokal secara ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan sekitar. Peningkatan ekonomi masyarakat lokal tidak terlepas dari keberadaan wisatawan yang datang berkunjung ke desa wisata. Wisatawan yang datang ke sebuah destinasi dalam jangka waktu tertentu, dalam menggunakan sumber daya dan fasilitas biasanya mengeluarkan uang untuk keperluan. Kemudian, meninggalkan tempat wisata untuk kembali ke negaranya. “Jika wisatawan yang datang ke sebuah destinasi tersebut sangat banyak akan berdampak pada kehidupan ekonomi daerah, baik langsung maupun tidak langsung.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan dapat bersifat positif maupun negatif” (Pitana dan Putu, 2009). Dampak pariwisata terhadap kondisi ekonomi dikategorikan dalam delapan kategori, yaitu:

  1. Dampak terhadap penerimaan devisa
  2. Dampak terhadap pendapatan masyarakat
  3. Dampak terhadap kesempatan kerja
  4. Dampak terhadap distribusi manfaat atau keuntungan
  5. Dampak terhadap kepemilikan dan kontrol (ekonomi) masyarakat
  6. Dampak terhadap pembangunan pada umumnya
  7. Dampak terhadap pendapatan pemerintah

Berkaitan dengan kepariwisataan, sektor ekonomi dapat menjadi indikator perkembangan suatu daerah yang menjadi destinasi wisata dan atau memiliki daya tarik wisata (Pamungkas dan  Muktiali, 2015: 364).  Peningkatan pendapatan bruto daerah, pendapatan perkapita penduduk, perkembangan sektor perniagaan, perkembangan sektor jasa, merupakan tolak ukur yang dapat dikaji penyebabnya dan dapat diukur pula proporsi peranan sektor kepariwisataan di dalamnya (Warpani, 2007;79-80).

Perkembangan ekonomi kawasan pedesaan dapat diukur dari pendapatan desa per kapita, pendapatan masyarakat, diversifikasi ekonomi (Adisasmita, 2006; Pamungkas dan Muktiali, 2015: 364). Pariwisata sebagai suatu industri memberikan dampak terhadap ekonomi baik untuk masyarakat lokal, daerah, maupun untuk negara. Dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata menurut Yoeti (2008) adalah :

  1. Dapat menciptakan kesempatan berusaha
    1. Dapat meningkatkan kesempatan kerja (employment)
    1. Dapat meningkatkan pendapatan
    1. Dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah dan retribusi daerah
    1. Dapat meningkatkan pendapatan nasional atau Gross Domestic Bruto (GDB)
    1. Dapat mendorong peningkatan infestasi dari sektor industri pariwisata dan sektor ekonomi lainnya
    1. Dapat memperkuat neraca pembayaran
  • Pengaruh Desa Wisata Terhadap Kondisi Sosial

Martin (1998 dalam Pitana dan Gayatri, 2005) menyatakan dampak sosial pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial akibat kedatangan wisatawan. Rakhmat (2001 dalam Wahyudi, 2014) menjabarkan perubahan sikap sebagai perubahan kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sedangkan, perubahan perilaku diartikan sebagai perubahan pola tindakan sebagai bentuk respon terhadap obyek yang ada disekitar lingkungannya.

  Terdapat tiga faktor yang mempengaruhibentuk sikap masyarakat terhadap pariwisata (Suharso, 2009: 82) yaitu:

  1. Hubungan wisatawan dan penduduk dapat mempengaruhi reaksi dan dukungan terhadap industri pariwisata
  2. Hubungan industri terhadap komunitas dan individu didasari kepentingan kemakmuran dan akan semakin dapat ditoleransi apabila terdapat konpensasi tertentu
  3. Hubungan yang dapat ditoleransi oleh penduduk setempat adalah hubungan yang dapat meningkatkan volume bisnis dari daerah tersebut

De Kant (1979) dalam Suharso (2009) mengidentifikasi tiga situasi yang memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam pariwisata yaitu:

  1. Saat wisatawan membeli barang dan jasa pada penduduk lokal
  2. Saat wisatawan dan penduduk saling berdampingan dalam suatu aktivitas
  3.  Dalam situasi keduanya berhadapan untuk bertukar informasi dan ide-ide.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, A.A.I., dkk. (2017). “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata dan Implikasinya terhadap Ketahanan Sosial Budaya Wilayah ( Studi di Desa Wisata Penglipuran Bali)”. Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 23 (1), 1-16.

Chusmeru dan Noegroho, A. (2010). “Potensi Ketengger Sebagai Desa Wisata di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas”. Analisis Pariwisata, Vol. 10 (1), 16-23.

Dinas Pariwisata DIY. (2014). Kajian Pengembangan Desa Wisata di DIY. Laporan Akhir. DIY: Dinas Pariwisata DIY.

Hadiwijoyo, S.S. (2012). Perencanaan Pariwisata Pedesaan Basis Masyarakat. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hausler, N. (2005). Defnition of Community Based Tourism. Tourism Forum International at the Reisepavillon. Hanover 6 Pebruari 2005.

Hermawan, H. (2016). “Dampak Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal”. Jurnal Pariwisata, Vol. III (2), 105-117.

N, A’inun,F., Krisnani, H., & Darwis, R.S. 2018. 53. Pengembangan Desa Wisata Melalui Konsep Community Based Tourism. Prosiding KS: Riset & PKM, Vol. 2 (3), 301 – 444, ISSN: 2442-4480.

Nur, I., dkk. (2018). “Implikasi Pengembangan Desa Wisata Terhadappeningkatan Ekonomi Masyarakat Lokal (Studi Di Desa Pao)”. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper: Manajemen, Akuntansi dan Perbankkan, 1090-1104.

Pamungkas, I.T.D., & Muktiali, M. (2015). “Pengaruh Keberadaan Desa Wisata Karangbanjar Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan, Ekonomi Dan Sosial Masyarakat”. Jurnal Teknik PWK, Vol. 4 (3), 361-372.

Pitana, I.G. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pitana, I.G., & Gayatri, P.G.(2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sahawi, E. M. (2015). Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat. Laporan Studi Pustaka (KPM 403). Institut Pertanian Bogor: Departemen Sains Komunikasi Dan Pengembanganmasyarakat.

Suharso, T.S. (2009). Perencanaan Objek Wisata dan Kawasan Pariwisata. Malang: PPSUB.

Victoria br. Simanungkalit, dkk. (2017). Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau. Jakarta: Asisten Deputi Urusan Ketenagalistrikan dan Aneka Usaha Kementerian Koperas dan UKM Republik Indonesia.

Warpani., S, P., & Indira., P.W. (2007). Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah. Bandung: ITB.

Wahyudi, F.T. (2014). “ Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Tingkat Kesejahteraan dan Sosial Budaya Masyarakat Lokal.” Makalah diterbitkan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.

Wahyuni, D. (2018). “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul”. Jurnal Aspirasi, Vol. 9 (1), 83-100.

Widyastuti., dkk. (2017). Pariwisata Spiritual Daya Tarik Wisata Palasari Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.

Zakaria, F., & Suprihardjo, R.D. (2014). “Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan”. Jurnal Teknik Pomits. Vol. 3 (2), C245- C249.

Yoeti, O. A. 2008. Ekonomi Pariwisata Introduksi, Informasi, dan Implemantasi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Review Jurnal Dampak Pariwisata dalam Upacara Batak Toba

Rithaony Hutajulu

Ritahaony Hutajulu dalam tulisannya membahas perkembangan pariwisata etnis di antara orang Batak dan dampak pariwisata terhadap upacara Batak toba. Menurutnya, pariwisata membantu menghidupkan kembali upacara Batak Toba, khususnya upacara adat yang terkait dengan agama. Upacara adat di Batak Toba mengalami penuruan akibat dari pengaruh agama Kristen dan kebijakan agama di Indonesia. Daya tarik utama dalam pariwisata etnis adalah penduduk asli, dimana peran mereka dalam melayani kebutuhan wisatawan, seperti menjadi tontonan untuk “dipamerkan”, difoto, diteliti, dan untuk diketahui cara-cara tertentu mereka dalam berinteraksi  (Keyes dan Van den Berghe 1984: 345).

Pengamatan utama yang dilakukan oleh Hutajulu di etnis Batak Toba Sumatera Utara, pada Agustus 1991 dalam studi etnografi Mangalahat Horbo Lae-lae (upacara pengorbanan kerbau) yang disebut juga dengan upacara Gondang Madudu di Limbong, yaitu sebuah desa kecil di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Upacara Gondang Madudu berlangsung selama lima hari, dan  hal yang tidak biasa dalam upacara ini adalah acaranya yang diatur oleh pemerintah Indonesia, serta dijadikan sebagai festival yang disebut dengan Pesta Danau Toba atau Perayaan Danau Toba, bersama dengan ‘Visit Indonesia Year 1991”. Festival ini merupakan cara untuk mempromosikan pariwisata, seperti yang dinyatakan Smith “kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan pariwisata termasuk kunjungan ke desa asli, pengamatan tarian, dan menyaksikan upacara” (Smith 1977: 2).

Argumen utama Hutajulu tentang upacara Batak Toba bahwa acara ini merupakan perayaan yang direproduksi untuk wisatawan, dan berfungsi untuk menempatkan Batak (khususnya Batak Toba) sebagai kelompok yang “sah” dalam nasionalisme Indonesia. Keterlibatan pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan upacara adat untuk tujuan pariwisata menimbulkan tanggapan dari Orang Batak Toba, karena menghadirkan etnis mereka sebagai bagian dari budaya Indonesia, dan hal itu telah mengubah esensi upacara dari konteks aslinya menjadi konteks wisata. Selain itu, pariwisata etnik juga memunculkan konflik antara orang-orang  yang terlibat dalam upacara, tentang siapa yang melakukan dan siapa yang membuat keputusan; terkait dengan masalah kekuasaan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Crick “Dalam mempelajari pariwisata, seseorang dapat menyelidiki secara terperinci hubungan antara kekuatan dan pengetahuan, penciptaan ‘pribumi’ dan ‘keaslian’ konsumsi dari pencitraan” (Crick 1989: 329-30).

Pariwisata di Indonesia: kasus Batak Toba Di Indonesia

Dalam hal daerah Batak, pariwisata tidak menjadi fenomena yang baru. Menurut Sibeth, pada awal abad kedua puluh (1910), wilayah Batak memang terdampak wisatawan karena misionaris di Selatan, pekerja perkebunan, dan komunitas bisnis di Utara berada di bawah perlindungan pemerintah kolonial Medan. “Di dataran Karo, dibangun rumah tamu pertama dari perusahaan perkebunan besar dan villa pertama dibangun di dekat Danau Toba. […] Saat itu sudah banyak orang Batak yang menempati posisi dalam industri pariwisata sebagai staf rumah, tukang kebun, koki, pembantu kamar rumah tangga, dan pelacur” (Sibeth 1991: 227).

Setelah kemerdekaan Indonesia, wilayah Batak terus menjadi tempat penting untuk pariwisata. Pulau Samosir yang dikelilingi oleh danau Toba menjadi tempat tinggal sebagain besar orang-orang Batak Toba, dan sebagai tempat yang ideal untuk pasriwisata. Terlebih beberapa tempat di daerah terebut secara historis penting bagi asal mula budaya Batak Toba, termasuk beberapa kegiatan budaya yang masih berlangsung, seperti pembangunan rumah tradisional, kegiatan produksi dari kerajinan tangan, tenun, dan musik tradisional.

Perayaan Danau Toba diadakan oleh pemerintah setiap tahun, sejak 1979.  Acara ini semacam ‘festival budaya’ yang menampilkan beberapa aspek budaya Batak, termasuk musik tradisional, seni, dan tarian dari enam sub-etnis orang Batak. Di samping itu, tujuan festival adalah untuk meningkatkan pelestarian budaya tradisional dalam setiap kelompok etnis. Baru-baru ini, berbagai acara wisata mulai dibuat dan dijadikan sebagai tempat yang lebih menarik sebagai tujuan wisata. Termasuk olahraga, rekreasi, pertunjukan kostum tradisional, pajangan kayu ukir, dan pertunjukan budaya oleh kelompok etnis Sumatera Utara lainnya (seperti Minangkabau dan Aceh), pertunjukan musik populer Indonesia, dan bahkan pertunjukan kembang api dan sinar laser. Namun, tampaknya hingga 1991 tidak ada upaya untuk memasukkan upacara yang terkait dengan agama asli sebagai bagian dari tempat wisata ini.

Sejauh yang diketahui oleh Hutajulu, Mangalahat Horbo Lae-lae diadakan pada tahun 1991 di desa Limbong, Pulau Samosir. Dan hal ini merupakan upaya pertama pemerintah Indonesia untuk mempromosikan upacara keagamaan Batak Toba sebagai objek wisata.  Batak Toba melakukan ritual dan upacara terkait dengan kepercayaan asli mereka, meskipun keyakinan ini dari pengaruh sebelumnya, terutama dari agama Hindu dan kemudian dari agama Kristen. Padahal, mulai tahun 1860-an kebanyakan orang Batak Toba masuk agama Kristen, banyak dari mereka masih memiliki hubungan yang kuat dengan keyakinan adat mereka. Terutama di Pulau Samosir, beberapa di antara penduduknya yang sudah tua dan masih melaksanakan upacara ritual. Namun, karena dibatasi oleh gereja Kristen, banyak dari ritual dan upacara ini kehilangan maknanya.

 Dampak pariwisata terhadap upacara Batak Toba terdapat dalam prosedur upacara pada perubahan beberapa bagian. Para inisiator upacara mengubah beberapa bagian yang dianggap tidak menarik bagi orang luar. Pada bagian Gondang Mandudu, repertoar musik roh ‘yang secara tradisional dimainkan dalam kegelapan’, dilakukan dengan cara mematikan lampu untuk menghemat waktu. Namun, hal ini bertentangan dengan esensi tujuan seremonial dari bagian Gondang Madudu. Dalam konteks tradisional, bagian Gondang Mandudu adalah bagian acara ritual yang paling penting, karena pada saat itu orang-orang yang mengadakan upacara akan ‘diberi tahu’ oleh kerohanian apakah mereka akan mendapat berkah atau tidak. Akibatnya, ada perdebatan antara inisiator upacara dan peserta lokal apakah mereka perlu melakukan bagian Gondang Mandudu dalam kegelapan  atau tidak. Akhirnya bagian Gondang Mandudu dilakukan dalam gelap (mematikan lampu acara) untuk kenyamanan pejabat pemerintah dan para turis yang datang, maka waktunya dipersingkat. Dalam acara Gondang Madudu, tidak ada seorang pun yang dirasuki oleh roh-roh. Adaptasi ini merupakan upaya untuk menghindari situasi yang tidak terkendali, tidak terduga, atau bahkan menakutkan.

Menurut Hutajulu, pariwisata telah berkontribusi untuk menghidupkan kembali upacara Batak Tona, karena sebelumnya dihalangi dalam melanjutkan upacara keagamaan lama mereka oleh misionaris Kristen, dan keyakinan Batak Toba tidak menjadi salah satu bagian dari lima agama yang diakui secara resmi di Indonesia. Dalam konteks pariwisata dan diskursus nasional Indonesia dalam pesta budaya (perayaan budaya), Batak Toba memiliki kesempatan untuk berlatih dan juga mempromosikan upacara mereka tanpa takut dengan larangan dari gereja Kristen atau merasa malu di masyarakat luas. Namun, untuk berhasil mempromosikan upacara pengorbanan kerbau dalam konteksnya yang baru, Batak Toba harus melepaskan beberapa esensi agama dan supernatural dari upacara tersebut.

Sepanjang pertunjukan upacara, orang Batak Toba berusaha untuk sedekat mungkin dengan ‘cara lama’ dalam melakukan seluruh rangkaian upacara, sebagai daya tarik bagi orang-orang di luar Batak. Padahal, Batak Toba sesungguhnya ingin memperlihatkan budaya mereka yang ‘autentik’ dan eksotis’ kepada para wisatawan internasional dan nasional. Kecenderungannya utuk menciptakan pertunjukan yang ‘autentik dan eksotis’ kadang-kadang menghadirkan sesuatu yang bukan bagian dari tradisi. Kontradiksi seperti ini pasti akan terjadi dalam upaya ‘autentisitas’ yang dimaksudkan untuk memuaskan wisatawan. 

Pemerintah dan orang-orang Batak Toba sama-sama saling mempengaruhi dalam menunjukkan identitas mereka. Di satu sisi, pemerintah mengembangkan upacara adat tidak hanya untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga untuk menunjukkan kesatuan dan keragaman budaya Indonesia. Bagi Batak Toba, keadaan ini digunakan untuk menunjukkan identitas budaya mereka sebagai bagian dari budaya Indonesia. Dengan demikian, dalam konteks pariwisata yang baru (pariwisata etnis) dapat memeberikan kesempatan bagi peserta upacara untuk menegaskan identitas dan tradisi Batak mereka dalam definisi sebagai orang Indonesia.

Apa yang dijelaskan oleh Hutajulu dapat ditemukan benang merahnya bahwa dampak pariwisata terhadap upacara adat di Batak Toba sangat riskan. Walaupun, pariwisata mempertahankan upacara dengan beragam perubahan dan pengadaptasian, namun jelas menghilangkan esensi makna yang sakral menjadi profan. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa adanya pariwisata maka suatu kebudayaan tidak dapat bertahan, bahkan hilang.

Penilaian Sumber Daya Budaya di Tujuan Wisata

Bonnie Farber Canziani

Pariwisata mempengaruhi nilai sumber daya budaya dalam suatu destinasi melalui proses akomodasi dan devaluasi atau transformasi aset budaya. Catatan penting  Canziani tentang upaya untuk merasionalisasi hasil yang kontradiktif, dengan memeriksa strategi manajemen budaya yang berhubungan dengan bentuk dan fungsi aset budaya dalam pariwisata. Salah satu bentuk aset budaya adalah bahasa warisan (heritage). Masalahnya kemudian bahasa warisan yang diprioritaskan dalam suatu masyarakat dijadikan sebagai komoditas pariwisata.

Dalam proses komoditisasi bahasa, terdapat dua penilaian yang dijadikan sebagai penanda identitas budaya dan menjadi profil budaya untuk produk wisata, yaitu penilaian utilitas intrinsik dan penilaian utilitas ektrinsik. Penilaian utilitas intrinsik didasarkan pada bentuk atau makna yang terikat dengan identitas budaya. Di samping itu, utilitas ekstrinsik lebih ditekankan pada fungsi pariwisata. Bahasa warisan sebagai aset budaya dapat memiliki utilitas intrinsik tinggi, jika pengelola wisata memberikan penilaian tinggi pada komunitas “tuan rumah” dari aset budaya. Begitu juga dengan utilitas ekstrinsik, penilaiannya dapat meningkat apabila memiliki peluang ekonomi dalam  pertukaran aset budaya dengan sesuatu yang bernilai.

Kedua penilaian tersebut termanifestasi dalam empat pengaturan pariwisata, yaitu:

  1. Strategi kelestarian budaya

Kelestarian budaya akan muncul ketika aset budaya memiliki nilai wisata intrinsik dan ekstrinsik yang tinggi.

  • Strategi proteksionisme budaya

Proteksionisme budaya digunakan ketika aset budaya memiliki nilai intrinsik tinggi tetapi nilai pariwisata ekstrinsik rendah.

  • Strategi transformasi budaya

Transformasi budaya akan muncul ketika aset budaya memiliki nilai intrinsik yang rendah tetapi nilai pariwisata ekstrinsik yang tinggi.

  • Strategi eliminasi budaya

Eliminasi budaya akan muncul ketika aset budaya memiliki nilai intrinsik yang rendah dan nilai ekstrinsik yang rendah.

Keempat strategi tersebut digambarkan oleh  bahasa warisan, dimana bahasa ini terdiri dari kata-kata, simbol, tanda gestural, artikulasi, simbol, makna, dan metode penggunaannya yang dibagikan oleh masyarakat.

Strategi pertama, tingginya nilai intrinsik dalam aset budaya  ditunjukkan oleh bahasa warisan sebagai bahasa yang diakui oleh penduduk sebagai bagian dari identitas budaya. Sedangkan, bahasa ini umumnya berkembang dari interaksi migrasi. Artinya, migrasi pun dapat dikatakan sebagai kegiatan wisata, sehingga pariwisata dapat mempercepat pergeseran bahasa, secara sistematis mengubah hegemoni linguistik di suatu wilayah (Dann, 1996). Destinasi mengkomodifikasi bahasa untuk mendukung penciptaan layanan pariwisata, dan disinilah letak meningkatnya nilai ekstrinsik.

Strategi kedua, proteksionisme budaya merupakan kebijakan untuk menjaga penggunaan bentuk-bentuk bahasa warisan di tempat tujuan. Misalnya, penulisan papan nama dengan menggunakan bahasa warisan daripada bahasa asing (Horey, 1991). Hal ini menunjukkan penulisan papan nama dengan bahasa warisan meningkatkan nilai intrinsik dari aset budaya, namun membuat nilai ekstrinsiknya menurun dalam konteks wisata.

Strategi ketiga, transformasi budaya menjadi hal biasa dalam destinasi wisata. Tranformasi budaya memanifestasikan makna aset atau aset aktual itu sendiri dan diubah menjadi sesuatu yang baru dalam pelayanan pariwisata. Sebagai contoh,

. . . Kaos dengan kata-kata Okinawa seperti shimanchu ‘pulau’ dan uminchu ‘nelayan’. . ..Di masa lalu, kata-kata itu adalah istilah yang menghina. Tidak ada yang bangga menjadi uminchu. Namun remaja mengenakan kemeja ini dengan bangga sebagai simbol identitas budaya mereka (Heffernan, 2006, p. 645).

Rendahnya nilai intrinsik berada pada konteks bahasa warisan yang memiliki konotasi kelas rendah, akan tetapi memiliki nilai ekstrinsik tinggi karena berada dalam konteks pariwisata, serta menjadi identitas dari pariwisata tersebut.

Pada strategi keempat, eliminasi budaya terjadi ketika penutur bahasa warisan tidak dapat memfasilitasi komunikasi dengan pekerja dan wisatawan dalam kegiatan industri, pengimporan, atau melatih penutur asing (Blazevic & Blazevic, 2007; Bruyèl-Olmedo & Juan-Garau, 2009). Dalam hal ini, masyarakat penutur bahasa warisan bisa saja dikurangi dikarenakan bahasa asing lebih diperlukan untuk memajukan perekonomian, dan keaadaan ini dapat mengakibatkan penutur bahasa warisan menjadi terpinggirkan, didevaluasi atau hilang (Heffernan, 2006; León, 2007). Padahal, jika kembali lagi pada transformasi budaya bahwa tujuan pariwisata (1) untuk mengelola aset budaya dan harus melindungi  hak-hak masyarakat, serta (2) seharusnya pihak pariwisata juga mempertimbangkan masyarakat tentang bagaimana mereka ingin dipekerjakan atau mengembangkan sumber daya budaya. Akan tetapi, eliminasi budaya memang sebagai fenomena yang tidak dapat dihindari dan terjadi lebih cepat dikarenakan pariwisata. Sebaliknya, Canziani berpendapat bahwa tradisi budaya dapat direvitalisasi dengan strategis dan aktif dalam mengelola persepsi nilai intrinsik dan wisatawan. 

Dari uraian yang dijelaskan dapat disimpulkan bahwa dampak pariwisata terhadap aset budaya, seperti bahasa (heritage) memiliki dampak positif dan negatif. Pariwisata dapat merubah sesuatu yang memiliki nilai rendah menjadi bermutu, seperti bahasa warisan yang sudah dicontohkan. Di satu sisi, pariwisata memiliki akibat fatal karena dapat mengeliminasi suatu budaya. Keadaan ini tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang tidak dapat ditangani oleh pengelola, dan hal ini lebih memberikan penilaian ogoistis terhadap pariwisata karena tidak mengimbangi antara kebutuhan masyarakat dan kepentingan pariwisata.

Review Jurnal Gender dan Maskulinitas: Perspektif Baru

Gender dan Maskulinitas: Perspektif Baru

Assa Doron dan Alex Broom

Jurnal Sejarah dan Budaya Asia Selatan , 2013 Vol. 4, No. 2, 167–175,

http://dx.doi.org/10.1080/19472498.2013.768842

Artikel yang ditulis oleh Doron dan Broom membahas tentang keadaan perempuan yang tertindas di India. Dalam dua kasus kekerasan terhadap perempuan yang pertama adalah terjadinya kasus pemerkosaan dan pemukulan terhadap wanita di dalam bus. Kedua, terjadinya pelecehan terhadap wanita di luar bar oleh sekelompok laki-laki. Kejadian ini dibiarkan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan dipertontonkan pada khalayak internasional, terbukti dari seseorang yang merekam kejadian pelecehan tersebut dan menayangkannya tanpa ikut campur tangan untuk membantu pihak wanita. Akibat kejadian ini, memunculkan tanggapan dari masyarakat tentang pihak yang bersalah adalah wanita karena dia dianggap tidak menjaga kehormatannya, sebab kejadian yang menimpanya memang salah wanita karena berada di luar kesadaran ‘kehilangan kendali karena minum-minum’.  Meskipun sudah ditetapkan peraturan tentang wanita harus menjaga moral dan kehormatannya, akan tetapi peraturan ini hanya diterima secara konvensional melalui tuturan tanpa adanya bukti tertulis, sehingga secara luas peraturan ini melekat dan dikenal di masyarakat.

Keadaan perempuan di India dimarginalkan terbukti dari keterbatasan dalam penggunaan barang-barang elektronik dan sebagainya. Bahkan dalam satu kasus penggunaan posel di desa-desa dibatasi untuk perempuan. Stereotip perempuan di India adalah sebagai seseorang yang harus menjaga dan menjalankan tradisi, sedangkan laki-laki sebagai konsumen yang menikmati hasil rampasan kapitalisme dan berada dalam ruang elektronik postmodern. Bagi laki-laki yang menolak untuk melakukannya, makan risikonya adalah mereka direpresentasikan sebagai seseorang yang kurang memiliki moralitas dan tidak bermoral, hanya untuk untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang maskulinisasi. Keadaan perempuan di India disorot sebagai suatu kasus polemik tentang ‘malangnya kehidupan perempuan di India’.  Hubungan gender ditentukan dalam bentuk kekerasan, penghinaan, dan degradasi terhadap perempuan. Padahal seharusnya posisi perempuan dan laki-laki menduduki posisi yang sama-sama memiliki kebutuhan dalam melangsungkan kehidupan. 

Doron dan Broom menyoroti fenomena perempuan India yang mengalami kekerasan, ketidakadilan, serta penindasan dengan perspektif lain tentang kesetaraan. Metode penelitian yang digunakan tidak dijelaskan secara spesifik, tetapi jika dilihat dari uraian dan penjelasannya secara deskriptif maka dapat dikatakan bahwa metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data secara deksriptif kualitatif. Hasilnya, gender dan maskulinitas jika dilihat dengan perspektif baru tentang peran maskulin tidak hanya dimanfaatkan untuk menguasai perempuan. Akan tetapi, maskulinitas dibangun di berbagai konteks pemerintah kolonial, kekerabatan, hubungan keluarga, mitologi, ibadah, gerakan politik, hubungan kerja, dan migrasi. Dengan demikian, struktur patriarki dan hegemonik maskulinitas  terus membentuk dominasi hubungan sosial dan budaya kontemporer di India.