Kisah-Kisah Hikmah

Lagi-lagi sebuah buku yang telah lama terbeli dan masih tersegel dalam sampul plastik bening yang rapi. Buku yang kutargetkan supaya habis dibaca meskipun sudah lama tidak dilirik lagi. Buku yang berisi kisah-kisah hikmah yang dapat menjadi teman duduk mumpung di bulan Ramadhan. Bagi kalian pecinta cerita-cerita hikmah kehidupan dari manusia-manusia langit. Saya bisa merekomendasikan buku yang berjudul “Berjuta Jalan Menggapai Pertolongan Allah” karya Awang Surya.

Penggunaan bahasa yang mudah dipahami membuat pembaca lebih memahami apa yang disampaikan oleh penulis. Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Part 1 bertema Nabi yang berisi sembilan kisah, yaitu (1) Adam bertemu kembali dengan Hawa; (2) Ali bin Abi Thalib; (3) Ibrahim tidak mempan dibakar; (4) Ibrahim selamat dari rasa malu; (5) Musa Terhindar dari pembunuhan; (6) Musa lolos dari kejaran Firaun; (7) Zakariya akhirnya punya anak; (8) Sulaiman mendapatkan kembali singgasananya; dan (9) Yunus berhasil keluar dari perut ikan.

Part 2 bertema laki-laki pilihan yang terdiri dari tujuh kisah, yaitu: (1) Ketulusan Al-Bazzaz berbalas kemakmuran; (2) Kejujuran si pemuda; (3) Ketabahan kakek miskin (4) Cukup Allah sebagai saksi; (5) Tiga orang yang ditolong amalnya; (6) Al-Rahji membayar 1 riyal; dan (7) Kejujuran itu menyelamatkan keluarganya.

Part terakhir, yaitu part 3 tema wanita-wanita pilihan yang terdiri dari delapan kisah, yaitu (1) Sarah tak bisa disentuh; (2) Zam-zam menyelamatkan Hajar; (3) Bayi itu membersihkan nama baik Maryam; (4) Gadis itu rela menikah dengan Julaibib; (5) Ummu Salamah berkumpul kembali dengan suaminya; (6) Kesabaran Fatimah berbuah balasan; (7) Kambing Ummu Ma’bad tetap bisa diperah; dan (8) Kebaikan itu mengalahkan cintaku.

Setelah membaca kisah-kisah tersebut, saya kemudian dapat menyimpulkan satu hal berdasarkan judul buku ini, berjuta jalan menuju pertolongan Allah dan pertolongan Allah itu datang ketika kita benar-benar berada dalam keadaan pelik dan gelap dalam masalah dan kesusahan. Mengapa? Karena saat itu kita seolah benar-benar mengakui satu-satunya harapan kita adalah Tuhan.

“Jika kamu berTuhan maka kamu tidak akan pernah khawatir dengan masa depan.” Kalimat inilah yang sekiranya dapat saya katakan berdasarkan apa yang saya pahami dalam buku ini. Bagi kalian yang senang dengan kisah-kisah hikmah kehidupan, saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini karena secara tidak langsung penulis seolah mengajak kita untuk selalu sadar dalam keadaan apapun, kesadaran akan Tuhan.

Kesadaran yang ditanamkan pada diri tentang kebutuhan kita kepada Tuhan semakin membuat kita yakin kepada-Nya karena keyakinan tidak akan pernah tergoyahkan oleh keraguan. Sebagai penutup tulisan ini, saya akan menuliskan kutipan yang terdapat dalam buku ini tentang keyakinan kepada-Nya.

Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang.

Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal saleh.

Aku tahu Allah Taala selalu memperhatikanku karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang maksiat.

Dan aku tahu kematianku itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan-Nya.”

(Hasan A-Bashri)

Kaburnya Makna Ikhlas dalam Wacana “Sumbangan Pembangunan” dalam Sebuah Percakapan Emak-Emak

Sebuah percakapan antara pembeli dengan penjual, yaitu seorang pengusaha kecil di sebuah konterkecil tempat pembelian pulsa hp. Seorang ibu di konter kecilnya tampak termenung dengan tangan kanannya menumpu kepalanya yang setengah miring ke kanan. Raut wajahnya tampak sedikit linglung seperti ekpresi seorang yang sedang kebingungan.

Seorang pelanggan datang menghampirinya, sepertinya ia akrab dengan pelanggan perempuan itu yang tampak seumuran dari postur tubuhnya. Percakapan pun mulai terjadi dan benar saja mereka ternyata akrab. Pelanggan tersebut adalah salah seorang ibu dari teman kelas anak pemilik konter kecil itu.

“Jadi, mau melanjutkan sekolah anaknya kemana, Bu?” Tanya pelanggan tersebut kepada pengusaha kecil.

“Saya belum tahu.” Jawabnya dengan tersenyum akrab.

“Kenapa belum memutuskan? Saat ini sekolah-sekolah sedang membuka penerimaan siswa baru.” Seru pelanggan itu kepada pengusaha kecil. “Apakah tidak akan melanjutkan di sekolah tetap?”

Kedua anak dari pengusaha kecil dan pelanggan tersebut ternyata bersekolah di suatu pondok pesantren yang menyediakan jenjang pendidikan dari TK sampai SMA dalam satu naungan atau lebih lazim disebut dengan satu atap. Kedua anak mereka baru lulus Sekolah Dasar di madrasah tersebut dan berencana untuk melanjutkan sekolah anak mereka ke sekolah yang lain.

Ibu yang merupakan pelanggan rupanya sudah menetapkan tujuan anaknya akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang Tsanawiyah atau setara dengan SMP, namun berbeda dengan ibu dari anak pengusaha kecil.

“Anak saya sudah bosan delapan tahun di madrasah tersebut sejak TK sampai SD,” kata pengusaha kecil kepada pelanggannya. “Tetapi, saya melihat-lihat biaya pendaftaran di salah satu madrasah yang menjadi tujuan untuk melanjutkan sekolahnya dapat dikatakan sangat mahal,” sambungnya.

Ia kemudian merincikan dari biaya masuk di madrasah yang dimaksud mencapai dua belas juta rupiah, dengan sumbangan pembangunan dapat mencapai delapan juta rupiah. Pengusaha kecil pun tertawa kecil dan seolah bertanya dengan dirinya sendiri.

 “Sumbangan pun bisa sebegitu mahalnya,” ucapnya dengan menggelang-gelengkan kepalanya. “Oleh karena itu, suami saya berkeinginan besar untuk menyekolahkan anak di luar pulau saja.”

Pengusaha kecil tampaknya sedikit terbebani dengan mahalnya biaya pendidikan saat ini. Memasuki jenjang Madrasah Tsnawiyah pun sudah begitu mahalnya. Pengusaha kecil itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

Dari percakapan kedua ibu-ibu tersebut, saya lebih cenderung menyimak dan memahami keadaan si pengusaha kecil. Apa yang saya dapatkan dalam keluhan pengusaha kecil memunculkan dua pertanyaan kecil dalam diri saya. Pertama, “Apakah saat ini makna sumbangan telah mengalami dekonstruksi makna dari suatu pemberian dengan standar keikhlasan menjadi suatu beban?” Yaitu, ketika dihadapkan pada konteks masyarakat kurang mampu, misalnya pengusaha kecil ini. Kedua, “Apakah saat ini, makna ilahirooji’uun itu mengalami keremangan makna, sehingga tujuan utama dari mencari ilmu yang berdasarkan pada segalanya mencari rida Tuhan seolah dapat dijadikan sebagai suatu bisnis?” Misalnya, dengan meberikan “tarif” pada niat murni seorang insan untuk mencari ilmu, atau mungkin memang konteks kehidupan kita saat ini dalam keadaan sedang berusaha bagaimana harus bertahan hidup? Sehingga yang saya tangkap dari fenomena percakapan dua emak-emak tersebut adalah apakah pendidikan saat ini memang dapat dijadikan sebagai suatu “bisnis?” Jawabannya ada pada masing-masing individu.

Ada yang salah

Saya teringat dengan ceramah Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag. dalam channel youtube ngaji filsafat. Salah satu ceramahnya mengatakan, “kalu kita sering salat terus, ibadah terus, namun kehidupan kita masih sumpek terus, tidak tenang terus berarti ada yang salah. Jangan membuat Tuhan selalu tersinggung dengan keluhan kita setiap hari.”

Dalam kehidupan rumah tangga yang selalu saya amati setiap hari, bahkan menjadi bagian dari keluarga salah seorang tetangga. Tiada hari tanpa keributan, selalu ada saja yang diributkan hingga saya pun berpikir mungkin penghuni rumah itu merindukan “kedamaian” walau satu hari, hanya satu hari saja.

Saya mengamati tetangga itu kedua suami istri yang tekun beribadah, tiada malam tanpa berjamaah di musala dekat rumah kami. Tiada malam tanpa membaca ayat-ayat suci al-Qur’an bahkan saya sering mendengar suaminya hatam dalam satu bulan dapat dua kali menghatam al-Quran. Ini adalah aktivitas malam mereka, namun di siang hari selalu saja ada hal-hal kecil yang mereka ributkan sampai saya pun hatam dengan aktivitas mereka. Mulai dari meributkan hal-hal kecil, misalnya salah satu dari mereka lupa dimana meletakkan pisau dapur, sehingga jika hendak dipakai mereka ribut saling tuduh siapa yang neggunakan pisau terakhir kalinya.

Pagi ini pun begitu, saya mendengar suara keras dari seorang putrinya, “Saya tidak tahu ada apa di rumah ini sampai-sampai tidak pernah beraura baik! Rumah ini sepertinya dihuni oleh jin Ifrit dan jin Qorin!” Keluarga yang rumit, pikirku.

Saya sebagai tetangga hanya bisa menyimak aktivitas rutin mereka yang selalu diributkan dengan hal-hal kecil. Bagaimana saya tidak mengetahui mereka, rumah kami hanya berbatas satu dinding dengan halaman rumah yang menyatu.

Ada yang salah, kesalahan yang tidak kita ketahui walaupun rajin ibadah, namun tidak ada ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari terutama pada diri. Ada yang salah, namun salah yang tidak diketahui apakah kesalahan dari ritual ibadah kita atau ada yang salah dengan subjeknya sediri yaitu diri kita. Intinya ada yang salah yang bahkan tidak kita ketahui dimanakah letak kesalahan itu.

Di Sebuah Toko

Suatu ketika disebuah toko, aku melihat seorang kakek-kakek dengan pakaian dan sarung yang lusuh tepat di pintu keluar toko. Kakek peminta-minta hanya duduk menanti kebaikan seorang hati manusia yang mau menyisihkan beberapa rupiah untuk memberinya sedekah.

Aku berhenti sejenak sambil memandangnya dan mengamati sekelilingku dimana letak kendaraan yang diparkir oleh tukang parkir. Kejadian langka kutemui setelah melewati kakek tua yang lusuh itu. Salah seorang gadis menghampirinya dan memberikannya selembar uang sedekah, namun komentar gadis itu membuatku berpikir sejenak tatkala ia menyodorkan tangannya kepada kakek sambil setengah membungkuk.

Hal tidak biasa pun terjadi, gadis itu berkomentar, “Wah…uang kakek banyak sekali! Kantungnya penuh,” kata gadis itu dengan polosnya. Kakek tua hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun sambil megambil selembar uang yang diberikan oleh si gadis. Mendengar ucapan gadis itu, aku pun melihat ke arahnya dan ke arah kakek itu, benar sekali satu lipatan yang cukup tebal yang terdiri dari pecahan sepuluh ribuan dan dua ribuan tampak jelas terlipat dalam kantung bajunya yang lusuh. Kantung baju yang membuat lipatan uangnya terlihat jelas karena berada di sebelah kiri dada sang kakek.  

Dengan komentar gadis yang demikian, kukira ia akan menarik kembali sedekahnya, namun nyata tidak. Aku pun berpikir, di luar toko ini ada dua macam penerima rupiah, pertama adalah tukang parkir dan sedekah untuk peminta-peminta. Membayar parkir merupakan suatu hal yang yang mau tidak mau harus dilakukan karena terkadang tukang parkir seperti tuyul, antara ada dan tiada. Awalnya memang pemilik kendaraan tidak berniat tidak parkir, namun tiba-tiba si tukang parkir pun datang. Di lain hal karena memang toko tersebut merupakan angkalan tukang parkir. Tentu saja kita tidak ingin ribut dengan jumlah uang dengan nilai yang sedikit bukan, hanya dua ribu rupiah. Kedua, memberi sedekah kepada peminta-minta. Dalam konteks disini adalah seorang tua yang tidak diketahui dari latar belakangnya memang dari keluarga yang tidak mampu atau sebaliknya. Sebab, terkadang kita sering tertipu dengan penampilan luar. Namun, hal ini bukan menjadi topik utama tulisan ini, melainkan suatu bentuk kritik atas diri mengapa kita begitu perhitungan terhadap sesuatu yang jumlah materinya tidak bergitu besar nilainya. Suatu material yang berjumlah dua ribu rupiah misalnya. Dua ribu rupiah yang akan diberikan pada dua macam manusia yang berbeda profesi, yaitu sebagai tukang parkir dan juga peminta-minta.

Dari komentar sang gadis, aku pun mulai bertanya pada diri apakah sekarang perihal keikhlasan memang sudah ada batasnya atau memang manusia sekarang membatasi diri pada objek-objek tertentu dalam hal ikhlas memberi? Jawabannya ada pada masing-masing individu.

Permainan bahasa dalam harga sebatang lipstik

Lipstik salah satu alat kecantikan yang dapat dikatakan wajib dimiliki oleh perempuan. Di suatu ketika pembahasan lipstik ini pun dimulai. Salah seorang teman melihat lipstik yang kupakai merk P. Teman tersebut kemudian bertanya dimana aku membelinya.

“Beli dimana?” Tanyanya.

“Toko belakang kampus,” kataku sambil memainkan, membuka tutup lipstik itu.

“Berapa?” Tanyanya lagi menanyakan harganya.

“Tiga puluh ribu.”

“Kenapa tidak beli saja di toko M? harganya lebih murah, dua puluh delapan ribu rupiah.” Katanya seolah memberikan saran supaya aku berbelanja di toko yang dia maksud.

“Owh….” Aku hanya meresponnya sesingkat itu.

Beberapa bulan kemudian, aku teringat dengan kata teman yang kuanggap saran itu. Akhirnya dalam perjalanan aku menyempatkan diri untuk mampir di toko M yang dia maksud.

Aku pun memasuki toko dan menuju lantai dua untuk mencari lipstik yang harga dua puluh depalan ribu rupiah tersebut. Setelah mendapatkan apa yang kucari, akhirnya aku keluar dan mendapati kendaraan sudah terparkir dengan rapi.

Apa yang terlintas kemudian? “Bayar parkir,” ya membayar parkir dua ribu rupiah. Permasalahannya bukan terletak di pembayaran parkir, namun cara berpikir kita ketika mengejar perbedaan harga barang yang lebih murah, namun harga yang dikejar burujung pada harga yang sama.

Lipstik dengan harga tiga puluh ribu di sebuah toko yang lebih dekat dan bebas biaya parkir, sama dengan harga lipstik dua puluh delapan ribu rupiah ditambah dengan bayar parkir dua ribu rupiah. Bukankah hal ini sama? Jadi, bukanlah suatu problem ketika harga barang sedikit lebih mahal, namun dapat diperoleh dengan mudah. Daripada memilih jarak yang cukup jauh demi mengejar harga barang murah, namun dengan adanya biaya tambahan lain sehingga menghasilkan “=” (sama dengan). Harga sebatang lipstik tiga puluh ribu sama dengan harga lipstik dua puluh delapan ribu ditambah dengan biaya parkir (30.000=28000+2000).

Wolf Walkers (2020)

Tentang cinta, kesetiaan, persahabatan, keluarga, ego, kekuasaan, dan kepercayaan.

Kau akan percaya setelah mengalaminya.” Inilah kalimat utama yang keluar dari saya sebagai penonton yang hanyut dalam alur cerita film Wolf Walker (2020).

Bagi kalian pecinta film kartun, ada rekomendasi film bagus untukmu, yaitu Wolf Walker. Wolf walker merupakan pemimpin kelompok serigala yang memiliki kekuatan sihir penyembuhan. Wolf walker dalam wujudnya berupa manusia disaat terbangun dan menjadi serigala disaat tertidur. Namun, yang berubah wujud menjadi serigala bukanlah wujud fisiknya melainkan jiwanya.

Film Wolf Walker menceritakan perjuangan Mebth yang menyelamatkan ibunya dari kematian bersama dengan sahabatnya, Robyn. Bagi kalian yang suka dengan tema kekeluargaan, film ini menjadi pilihan yang tepat karena tema besar film ini tentang keluarga. Bagaimana cinta dan kasih sayang dari orang tua tunggal, antara Mebth dengan ibunya, dan Robyn dengan ayahnya seorang pemburu serigala yang berujung menjadi wolf walker.

Hal penting yang saya amati dalam film ini adalah The Power Of Knowledge (kekuatan dari sebuah pengetahuan) yang mampu menggerakkan, bahkan menjadi pengendali masyarakat. Pengendali dari pikiran bahkan tindakan masyarakat dalam film ini digerakkan oleh seorang yang dipercayai dan diyakini membawa kebenaran. Tokoh pengendalinya dalam film ini adalah seorang tuan pelindung yang disebut dengan Lord Protector. Apapun yang diperintahkan oleh Lord Protector diklaim sebagai firman Tuhan sehingga mau tidak mau, suka tidak suka masyarakat harus menaatinya, termasuk memusnahkan serigala demi perluasan wilayah dan pembakaran hutan. Lord Protector inilah yang menanamkan pemahaman kepada masyarakatnya tentang serigala memang layak dimusnahkan. Meskipun, pada kenyataannya di film ini apa yang dipahami tentang keburukan serigala bertentangan dengan kenyataannya, terlebih kawanan serigala berada di bawah pimpinan wolf walker. Ego dari seorang Lord Protector ini kemudian mengingatkan saya pada film Hypatia yang merupakan seorang filsuf perempuan yang berakhir tragis akibat dari penguasa yang mengatasnamakan firman Tuhan untuk kepentingan sendiri.

Aspek lain yang saya amati juga dari film ini adalah tentang bagaimana rapuhnya seorang laki-laki, yaitu ayahnya Robyn, siapapun mungkin tidak akan menyangka seorang lelaki tangguh, kekar, kuat, dan juga pemberani, namun hanya tampak dari luarnya saja. Kerapuhannya ia tunjukkan secara pribadi di depan Robyn, bagaimana sesungguhnya ia begitu ketakutan jika sewaktu-waktu kehilangan orang yang dicintainya. Membahas tentang cinta, saya kemudian teringat dengan penjelasan Dr. Fahruddin Faiz tentang dahsyatnya energi cinta yang mampu memberikan kekuatan dan juga mampu membuat seseorang menjadi rapuh. Energi cinta yang mampu menyembuhkan luka disaat Mebth menyelamatkan ibunya dari kematian dan juga energi cinta ayahnya Robyn dalam kerapuhannya takut dengan penguasa, namun mampu melindungi anaknya.

Di balik kerapuhan seorang lelaki, itu karena dia mencintaimu.”

Telawas Beach

Sumber: dokumentasi pribadi Niza, 2020

Pantai, Terapi pikiran Di ujung Selatan Pulau Lombok

Perjalanan ini diawali dari sebuah kepenatan dan kesumpekan seorang teman yang menghubungiku di pagi hari.

Bepergian tanpa rencana, itulah hal yang pasti daripada jauh-jauh hari berjanji, namun tidak ditepati.

“Ke pantai, yuk. ” Ajaknya melalui whatsaap. Mata yang baru terbangun tidak terlalu memperhatikan pesannya. Dalam keadaan setengah sadar, tangan ini kembali meraba hp untuk memeriksa adakah notif dari si “dia”.

Kebiasaan bangun pagi, namun masih menscrool beragam info-info di media sosial lainnya mengingatkan pada pesan dari teman, “ke pantai, yuk. “

Pukul delapan pagi, tanpa basa-basi akhirnya saya mengiyakan ajakannya. Janjian di jam itu dan satu jam kemudian dia datang menjemput dengan sepeda motor.

“Mau keman? ” Tanyaku.

“Kemana aja yang penting pantai. ” Jawabnya.

Saya kemudian teringat dengan salah satu tempat wisata yang baru dibuka di daerah Lombok Tengah bagian selatan.

“Telawas! ”

“Apa kamu tahu tempatnya? “

“Tidak, tapi kita punya maps. ” Kataku dengan mantap.

Setelah dicek lokasinya, ternyata melalui jalan menuju Selong Belanak. Namun, jalan menuju Telawas ini mengambil jalur kiri pada pertigaan menuju pantai Selong Belanak jika titik berangkatnya dari Kota Praya.

Jalan yang tidak asing bagiku karena mengingatkanku pada perjalanan sekitar tujuh tahun yang lalu ketika pertama kali ke pantai Semeti. Ternyata benar, lokasi pantai Telawas masih satu lokasi yang bersebelahan dengan pantai Semeti, dan juga Pantai Batu Rudal. Jadi, di satu lokasi kita bisa mengunjungi tiga pantai sekaligus.

Di masing-masing pantai, pengunjung harus membayar parkir sebesar lima ribu rupiah untuk kendaraan roda dua dan sepuluh ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Beda lagi dengan pembayaran masuk lokasi pantai sebesar lima ribu rupiah untuk sepeda motor dan sepuluh ribu untuk mobil. Bingung ya? Baiklah, saya jelaskan. Jadi, kalau mau ke lokasi tiga pantai ini bisa dikatakan kita membayar biaya masuk sebanyak dua kali, pertama pembayaran memasuki zona wisata dan pembayaran memasuki zona pantai.

Ciri khas dari pantai Selatan bagian Lombok Tengah ini adalah lokasinya yang benar-benar di balik bukit, dan bebatuan terjal yang berjejer di tepi pantai, dan inilah intinya karena menjadi spot utama untuk take picture bagi kalian yang suka foto.

Pantai, bebatuan, perbukitan menjadi suasana yang membawa memori kehidupana di masa lalu, sepi, sunyi, dikelilingi dengan tumpukan bukit dan suara angin serta deburan ombak yang membuat saya secara pribadi malas untuk pulang dan kembali ke kota.

Sesekali kita pun butuh menyepi dari keramaian kota, namun keramaian sesungguhnya terletak pada pikiran kita, jiwa kita. Terkadang, di malam hari pun ketika waktunya beristirahat, kita masih saja berada dalam keramaian, yaitu keramaian pikiran yang selalu aktif terbangun meskipun kita telah memerintahkannya untuk beristirahat dalam tenang dan damai.

“Sesekali kau butuh menyepi untuk mengetahui isi dari keramaian. “

Deep Inside #1

Sebuah buku mengantarkan diri pada tulisan ini, buku yang telah lama tidak terbaca sejak dibeli dua tahun yang lalu. Aksperest (hamba cinta) karya Adem Ozbay yang telah diterjemahkan oleh Purbarani, penerbit Zahira. Buku ini berisi empat bagian, yaitu (1) perjalanan hamba cinta, (2) pemikiran hamba cinta, (3) penghayatan hamba cinta, dan (4) kata-kata hamba cinta.

Pembahasan dalam buku Aksperest ini mengarah pada tasauf, bagaimana diri sebagai manusia diingatkan akan Tuhan yang selalu hadir dalam kehidupan, Tuhan yang selalu menemani, cinta Tuhan kepada diri, makhluk awam yang selalu lupa bersyukur dan mengingat-Nya pun terkadang tatala ketika hidup dalam keadaan gelap dan dirundung permasalahan duniawi.

Inti yang disampaikan oleh Ozbay dalam Aksperest ini adalah penemuan jati diri dengan mempertanyakan hal-hal dasar seperti, “Siapa aku?” “Dari mana aku berasal”, dan “Aku akan kemana?” Jawaban yang ditemukan untuk tiga pertanyaan ini hanya satu, yaitu Tuhan, ilaihi rooji’uun, apapun itu semuanya kembali pada Tuhan. Selanjutnya adalah bagaimana diri sebagai manusia membangun cinta, cinta ilahiyah.

Cinta ilahiyah dapat dimulai dengan sederhana, yaitu dengan selalu bersyukur atas apapun yang telah diberikan Tuhan, dimulai dari ketika bangun dari tidur hingga tidur lagi. Bersyukur tentu membawa diri pada mengingat-Nya. Ingatlah Dia, maka hatimu akan menjadi tenang “ala bidzikrillahitatmainnal quluub.” Mengingat-Nya menunjukkan betapa penting dan butuhnya diri kepada Tuhan.

Kebutuhan akan Tuhan, inilah yang disampaikan juga oleh penulis. Bagaimana diri tidak berdaya tanpa bantuan Tuhan, namun ketidakberdayaan ini kadang membuat diri menjadi ragu kepada-Nya ketika diberikan ujian. Sesekali pernahkah diri berpikir, apakah mungkin ujian itu memang betul-betul ujian atau memang azab dari-Nya yang tidak disadari, mungkin di suatau masa diri pernah berbuat suatu hal yang tidak diridhoinya. Tatkala menerima ujian inilah, diri terkadang sering mengeluh, berkeluh-kesah seolah nyawa, mati pun menjadi hal terbaik yang singgah di dalam pikiran. Namun, ketika pikiran itu singgah, diri selalu tidak sadar dengan keinginannya itu, sebab bekal apa yang sudah ia kumpulkan untuk mengarungi kehidupan sesungguhnya.

Dalam permasalahan duniawi, diri sering sekali membuat Tuhan tersinggung, seolah ragu bahwa Dia adalah penjamin kehidupan. Namun, sayangnya hal ini hanya mudah untuk dilisankan daripada dilaksanakan. Tuhan begitu baik, dalam setiap doa yang diucapkan oleh hamba seringkali diri memerintah Tuhan, meminta diberikan ini, meminta diberikan itu dan Tuhan memberikannya, alangkah baiknya Dia.

Dari banyaknya teori duniawi yang dipelajari, habisnya usia untuk mencari, mempelajari, terdapat satu jawaban pasti yang dijumpai, ilaihi rooji’uun.

Sebuah Cerpen

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan-tulisan Januar Eriyanto yang kubaca setiap ada notifikasi di email. Seperti katanya, enjoy!

Hujan di Malam Rabu

“Zraaasssss…. Tak-tak. Tring-ting-ting…,” bunyi hujan di malam Rabu mulai terdengar tatkala memasuki waktu Isya. Hujan di malam hari seharusnya membawa ketenangan dan kedamaian malah berbalik menjadi duka kerinduan. Hujan di malam hari yang kusenangi kini berubah menjadi lara, lara-lara kerinduan yang tidak dapat tersampaikan pada tambatan hati. Hujan itu … kamu.

Dua tahun yang lalu, aku bersama denganmu di gedung perpustakaan kampus XXX lantai empat. Aku yang penat dengan perkuliahan sejak pukul sembilan pagi hingga empat sore menyusulmu menuju perpustakaan. Kamu yang ada disana sejak siang hari untuk menyelesaikan tugas kuliah.

“Bisa menjemputku?” Aku mengiriminya pesan supaya ia menjemputku ke gedung kuliah untuk menemaninya disana. Aku berpikir sejenak, akan sangat melelahkan jika ia naik dan turun lantai empat cuma untuk menjemputku, padahal jarak perpustakaan dengan gedung kuliahku ini dekat. Ah … aku sedikit egois jika memaksakan egoku untuk dijemput olehnya, sedangkan aku bisa menyusulnya dengan berjalan.

“Iya.” Dia menjawan pesan itu. Namun, aku sebaliknya menolak kesanggupannya untuk datang.
“Tidak jadi, aku kesana dengan berjalan saja karena dekat. Tidak apa-apa.”
“Iya. Lewat jalan pintas depan penerbitan buku kampus karena jaraknya lebih dekat,” balasnya dan aku mengiyakan.

Aku yang lelah dan penat saat itu berjalan menikmati langkah kakiku yang lelah, otak yang lelah dan pantat yang panas karena kelamaan duduk menerima materi kuliah sepanjang hari. Beberapa menit kemudian aku telah sampai di lantai empat, ruangan yang penuh dengan buku-buku ilmu alam yang sesuai dengan prodinya.

“Hai ….” Aku menyapanya. “Hah….” lalu menghela nafas dan duduk di dekatnya. Ia yang terlihat pusing, mumet dan penat sama sepertiku. “Adek lapar….” Aku yang baru saja duduk merebahkan setengah badan ke meja menghadapnya, melihatnya dari samping. Ia yang sedang sibuk dengan laptopnya sejenak melihatku dan tersenyum sambil memainkan satu alisnya. Biasa…gaya mengangkat satu alis. Aku pun membalasnya dengan senyuman, “semangat….” Ucapku untuk menyemangatinya. Padahal kami berdua sama-sama membutuhkan semangat saat itu. “Nanti mau makan dimana?” Tanyaku. Aku mengajaknya bicara walaupun dia sedang sibuk mengetik tugasnya di laptop.

“Terserah. Kalau aku yang penting makan,” jawabnya. Ya…laki-laki kebanyakan memang seperti itu, tidak pilih-pilih makanan layaknya perempuan sepertiku. Dia tidak terlalu mengutamakan rasa yang penting makan untuk menjaga tubuh tetap sehat.
“Makan dimana ya? SBS?”
“Hmph.” Dia menahan tawa dan melihatku mendengar pertanyaan itu.
“Apa?”
“Salah. Yang benar itu SBC.” Ia memperbaiki singkatan itu.
“Iya, SBS.” Aku benar-benar tidak fokus saat itu karena 6L; Lelah, Letih, Lapar, Lemas, Lesu, Lunglai. Aku mengulang-ulangi singkatan tempat makan yang terdiri tiga huruf itu, “SBS” yang selalu salah.
Ia yang lelah mendengarku lalu mengatakan, “SBC, kamu lelah. Sudahlah… istirahat.”
“Aku ngantuk….”
“Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau tugas ini sudah selesai,” tuturnya dan aku mengiyakan.
Badanku menyamping menghadapnya dan…, “zraaassshhhh.” Hujan pertama yang turun di sini sebagai pembuka masuknya musim hujan saat itu.
“Hujan?” Aku pun bangkit dari rebahan. “Bagaimana nanti kita bisa pulang?”
“Tunggu setelah hujannya reda.”
“Hujan pertama di kota rantauan turun saat sedang bersamamu.”
Dia tersenyum dan bertanya, “Terus kenapa?”
“So sweet, romantis,” jawabku sambil tersenyum melihatnya. “Yah…sudah hujan, air di kosku tidak ada, belum mandi lagi. Adek nanti ke kosnya Dina gih buat numpang mandi?” Aku sebenarnya meminta persetujuannya supaya bisa ke kos teman karena jaraknya yang lumayan jauh dan waktu itu juga menjelang malam yang disertai hujan.
“Tidak,” katanya. Dia menolak keinginanku yang harus ke kos teman malam-malam cuma untuk menumpang mandi.
“Tapi aku belum mandi,” rengekku supaya ia mengiyakan.
“Mandi pakai air hujan,” ucapnya santai.
“Eh…kok gitu? Aku kan perempuan. Tidak seperti laki-laki yang simple mau mandi hujan atau apa kek yang lebih mudah.”
“Ya…, ditampung.”
“Lebih baik aku tidak mandi.”
“Ya…sudah jangan mandi.”
“Apa sih? Kok gitu?” Aku sedikit kesal, namun jawabannya memang benar dan sedikit menyebalkan.
“Kenapa harus repot-repot sih? Harus mandi ke kos teman. Apa kamu tidak bisa memanfaatkan apa yang ada. Air di masjid dekat kosku lancar.” Menurutku, di balik jawabannya, ia sebetulnya memberikan saran.
“Apa tidak apa-apa mandi disana?”
“Tidak apa-apa.”
Aku pun mengikuti sarannya yang menyebalkan itu untuk menghindari munculnya cek-cok yang bisa ditimbulkan akibat perbedaan keinginan. Akhirnya, aku pun memutuskan mandi di kamar mandi masjid dekat kosnya itu.

Kini, hujan di malam Rabu tidak kunjung mereda dan aku pun belum merasakan kantuk sama sekali. Pikiranku terjaga karena mengingatnya, mengingat ia di saat hujan karena hujan pertama turun saat aku bersama dengannya. Hujan di malam ini begitu jahat, turun dengan lebatnya menghadirkan kumpulan kerinduan padanya. Ia yang tidak lagi disini menemaniku di saat musim hujan seperti tahun-tahun lalu, ia yang selalu ada bersamaku. Ia yang selalu kukirimi pesan-pesan kerinduan di kala hujan datang. Hujan malam Rabu sangat menyiksaku, pesan-pesan kerinduan yang biasanya kukirimkan untuknya kini terhenti, aku tidak lagi memiliki hak untuk mengiriminya pesan-pesan itu, walaupun tersiksa sendiri merindukannya sampai terjaga sepanjang malam.

Smarthphone yang pintar ini seolah mati fungsi semenjak ia pergi. Kerlap-kerlip lampu yang menandakan adanya pesan-pesan darinya kini sepi sunyi, tidak ada lagi bunyi pesan khusus yang datang darinya. Hujan malam rabu memang penjahat yang menghadirkan ia bersama kenangan dan kerinduan. Aku menghela nafas panjang dan menahannya, lalu menyebut namanya dan berucap, “aku… kangen….” Namun, kangen yang tidak tersampaikan. Sudah tengah malam dan waktu menunjukkan pukul satu dini hari.

Hujan yang seharusnya menjadikan tidur nikmat berubah menjadi penyiksa yang jahat. Aku ingin mengiriminya pesan dan bercerita padanya, seperti biasa yang kulakukan selama ia masih bersamaku, “disini hujan…dan aku merindukanmu.” Namun, smartphone yang mati fungsi ini hanya bisa kugenggam tanpa berani mengetik kata-kata dan hanya menghidupkan data, mengawasi kontaknya apakah sedang online atau tidak. Kerinduan yang dibawa oleh hujan di malam Rabu menemaniku melepas kangen dengan membaca pesan-pesan yang telah lalu. Terasa… sesak sekali dada ini bersamaan dengan rindu pada dini hari.

“Tidak… aku tidak boleh seperti ini,” gumamku. Aku berusaha menenangkan pikiran dan menikmati rindu itu sendiri bersama hujan. Tidak, jiwa ini ternyata belumlah lelah, mata ini belumlah terkantuk. Bagaimana aku harus menyampaikan kerinduan ini? Rindu di tengah malam karena tradisi memikirkanmu sebelum tidur belumlah usai, ditambah lagi dengan kehadiran hujan yang merepresentasikan kamu. Hujan itu kamu, dan kamu itu adalah hujan. Aku mencoba menenangkan pikiran…, menarik nafas dalam dan mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Katanya, doa ketika hujan merupakan doa maqbul yang segera dikabulkan. Doaku malam itu…hanya Tuhan yang tahu.

“Tingdong deng dong deng!” suara alarm berulang berbunyi pada pukul enam pagi membangunkanku. Hujan semalam ternyata belum juga reda, kuamati smartphone yang tidak lagi memiliki fungsi itu sejak tidak adanya kamu. Lampunya berkedip dua kali menandakan adanya pesan masuk. Aku tidak terlalu berharap pesan itu darimu, namun naif sekali jika aku menolak untuk berharap bahwa pesan itu semoga dari kamu. Ya, benar pesan itu ternyata dari operator.

Pagi yang hujan sama hujannya dengan keadaan hati yang lara merindukan sapaan pagi, yang biasanya kita lakukan setiap hari minimal mengucap, “selamat pagi” seperti yang dilakukan oleh kasir di toko-toko alfamart dan indomart setiap hari ketika adanya pelanggan yang mengunjungi.

Hujan itu pun hilang ketika waktunya telah tiba, lalu apakah kamu juga akan benar-benar hilang ketika waktunya sudah tiba? Waktu adalah penawar ampuh penyembuh luka.

Terjaga

Pukul 0: 28 WIB

Andaikan mereka dapat berbicara

“Otakku, kenapa juga kamu belum lelah dan belum menyerah memaksaku untuk selalu menulis apa yang kamu pikirkan, tidakkah kamu lelah? Aku, tangan yang mengetik apa yang ingin kamu sampaikan sudah pegal dan muak mengikuti inginmu sejak tengah malam kemarin. Kenapa kamu egois seperti ini terhadapku?”

“Tidak, tidak boleh. Jika aku istrihat membawa pikiran-pikiran ini, nanti bisa lenyap dan tidak akan ku temui lagi. Kamu adalah mediaku.”

“Tapi aku capek.”

“Tapi aku lebih capek menahan beban ini.”

Pikiran-pikiran ini menuntunku untuk menulis apa yang ingin aku tulis, padahal aku tidak tahu harus menulis apa, namun tetap saja ingin menulis.

“Mau menulis apa?”

“Menulis apa yang ingin aku tulis.”

Tamat.